Iran Tuduh AS dan Israel Lakukan Genosida Setelah Serang 600 Sekolah
Iran menuduh AS dan Israel melakukan genosida setelah keduanya menyerang lebih dari 600 sekolah di Iran, menewaskan ratusan siswa.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Iran menuduh AS dan Israel melakukan genosida setelah lebih dari 600 sekolah diserang, termasuk di Minab yang menewaskan ratusan anak.
- AS mengklaim serangan 28 Februari disebut akibat kesalahan data target AS yang mengira sekolah sebagai fasilitas militer.
- Konflik ini memicu kecaman internasional, namun belum ada resolusi resmi dari PBB.
- Perang terus berlanjut dengan serangan balasan Iran, blokade Iran terhadap Selat Hormuz, dan dampak global seperti lonjakan harga minyak.
TRIBUNNEWS.COM - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menuduh Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan genosida atas penargetan "sengaja" terhadap sekolah dan fasilitas pendidikan dalam serangan terhadap Iran.
Ia mengatakan lebih dari 600 sekolah dan fasilitas pendidikan di seluruh Iran telah menjadi sasaran serangan AS-Israel selama sebulan terakhir, termasuk Sekolah Shajareh Tayyebeh di Minab tempat lebih dari 160 anak tewas.
“Ini bukan tindakan kekejaman yang terisolasi – ini adalah bagian dari pola sistematis dan brutal peperangan ilegal terhadap Iran,” tulisnya dalam sebuah unggahan di X pada hari Rabu (1/4/2026).
“Istilah 'kejahatan perang' sama sekali tidak cukup untuk menggambarkan kekejaman ini. Mengingat retorika permusuhan yang jelas terhadap Iran (sebagai sebuah bangsa) yang diungkapkan oleh pejabat AS/Israel, kejahatan ini sama dengan genosida," lanjutnya.
Serangan AS-Israel Terhadap Iran
Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel memulai serangan terhadap Iran dengan meluncurkan rudal di berbagai kota, termasuk pemboman sekolah dasar Shajarah Tayyebeh, yang menewaskan sedikitnya 175 orang, lebih dari 160 di antaranya anak-anak.
Para pejabat AS dan Israel awalnya memberikan bantahan dan penjelasan yang saling bertentangan, bahkan Presiden AS Donald Trump menuduh Iran melakukan serangan itu.
Namun, Pentagon telah membuka penyelidikan, dan laporan mengklaim bahwa para penyelidik telah mengkonfirmasi bahwa AS melakukan serangan tersebut menggunakan data penargetan yang sudah usang yang salah mengklasifikasikan sekolah tersebut sebagai bagian dari kompleks militer di dekatnya.
Pada hari yang sama dengan serangan Minab, sebuah sekolah dan aula olahraga di kota Lamerd, Iran selatan, juga dihantam, menewaskan sedikitnya 21 orang.
Mengutip analisis rekaman dan pakar senjata, New York Times melaporkan serangan itu dilakukan oleh AS menggunakan Rudal Serangan Presisi (PrSM) yang belum pernah diuji sebelumnya, yang meledak di atas target dan menyebarkan pelet tungsten kecil.
Baca juga: Warga AS Muak Perang! Desak Operasi Militer di Iran Segera Dihentikan
Sementara serangan di Lamerd hanya menarik sedikit perhatian global, kekejaman AS dan Israel di Minab telah memicu kecaman.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menuduh AS dan Israel melakukan kekejaman, sinisme, dan dehumanisasi, lapor Russia Today.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez sama-sama menyatakan solidaritas dengan para korban pembantaian tersebut.
Namun, Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC) dan Dewan Keamanan PBB (UNSC) gagal mengadopsi resolusi resmi yang mengutuk kekejaman tersebut.
Angka sementara korban jiwa menunjukkan 1.937 orang tewas di Iran, setidaknya 24 orang di Israel, 13 tentara AS, dan 27 orang tewas di negara-negara Teluk.
Menanggapi serangan AS dan Israel, Iran membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel dan pangkalan AS di Timur Tengah, termasuk Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Baca tanpa iklan