Macron Dukung Kedaulatan Iran, Kapal Prancis Lancar Jaya Lewat Selat Hormuz
Sikap Iran ke kapal Prancis ini akan memperuncing keretakan antara Amerika Serikat dan NATO yang sudah tegang sejak Trump menjabat.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Macron Dukung Kedaulatan Iran, Kapal Prancis Lancar Jaya Lewat Selat Hormuz
Ringkasan Berita:
- Presiden Prancis Emmanuel Macron mengambil sikap tegas menentang wacana Trump tentang Iran, termasuk niatan menggunakan kekuatan guna mengamankan jalur perairan Selat Hormuz.
- Niatan Trump ini secara terbuka ditolak Macron sebagai "tidak realistis."
- Penolakan Macron atas niatan Trump ini disusul oleh melintasnya sebuah kapal berentitas Prancis tanpa gangguan berarti di Selat Hormuz.
TRIBUNNEWS.COM - Sebuah kapal kontainer milik Prancis dilaporkan berhasil melintasi perairan Selat Hormuz tanpa gangguan berarti di tengah peperangan yang terjadi antara Iran melawan agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Melintasnya kapal Prancis ini menandai kapal pertama yang diketahui milik entitas Eropa Barat yang melewati jalur air vital tersebut sejak dimulainya perang di Asia Barat tersebut.
Baca juga: Megaproyek Negara Teluk Bangun Jalur Pipa Atasi Ketergantungan Selat Hormuz: Rawan Sabotase Iran?
Kapal itu adalah Kapal CMA CGM Kribi berlayar dari perairan lepas Dubai menuju Iran pada Kamis (2/4/2026) sore, dengan data pelacakan kapal yang mengkonfirmasi kepemilikannya oleh Prancis.
Kapal tersebut menyusuri garis pantai Iran, melewati selat antara pulau Qeshm dan Larak sambil menyiarkan posisinya.
Pada Jumat (3/4/2026) pagi, dilaporkan bahwa kapal tersebut berada di lepas pantai Muscat setelah berhasil menyeberangi selat, menurut Bloomberg News.
Sejak dimulainya perang di Asia Barat pada 28 Februari, Iran secara efektif membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz, mengurangi pengiriman melalui jalur air vital tersebut hingga tingkat minimum sebagai pembalasan atas operasi pengeboman AS-Israel terhadap Iran, yang menargetkan kepemimpinannya, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dan tokoh-tokoh kunci dalam rezim dan militer Iran, IRGC.
Transit tersebut menandakan kemungkinan koordinasi antara Teheran dan Paris, berbeda dari hubungan yang tegang antara Amerika Serikat dan Prancis, yang berada di bawah tekanan di tengah perang Iran, memperburuk perpecahan di antara sekutu NATO.
Baca juga: Amerika Serikat Keluar dari NATO: Apa Saja Prosedur dan Dampaknya?
Meskipun perbedaan antara Paris dan Washington telah lama ada terkait isu-isu seperti penjualan peralatan pertahanan dan prioritas strategis, perbedaan tersebut semakin tajam dan terbuka sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih untuk masa jabatan kedua.
Perselisihan mengenai Greenland dan NATO semakin memperdalam ketidaknyamanan dalam hubungan bilateral.
Baca juga: Amerika Vs NATO: Polandia, Prancis, dan Italia Membangkang Permintaan AS Berperang di Iran
Trump Tidak Realistis
Momen penting terjadi ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron mengambil sikap tegas menentang usulan Trump tentang Iran, termasuk saran untuk menggunakan kekuatan guna mengamankan jalur perairan tersebut, sebuah gagasan yang secara terbuka ditolak Macron sebagai "tidak realistis."
“Ada pihak-pihak yang menganjurkan pembebasan Selat Hormuz secara paksa melalui operasi militer, sebuah posisi yang terkadang diungkapkan oleh Amerika Serikat,” kata Macron.
Presiden Prancis itu menambahkan bahwa “Saya katakan 'terkadang' karena hal itu bervariasi. Itu bukanlah pilihan yang pernah kami pilih, dan kami menganggapnya tidak realistis”.
Meskipun demikian, Macron mendukung penilaian yang lebih luas bahwa Iran adalah rezim yang sangat bermasalah, sambil menarik garis yang jelas mengenai metode: "Saya tidak percaya bahwa kita akan memperbaiki situasi hanya dengan pengeboman atau operasi militer."
Baca tanpa iklan