Warganet Komplain Tiket Kena Cancel & Reschedule Massal, AirAsia Buka Suara
Pihak AirAsia mengungkapkan bahwa pihaknya tengah melakukan optimalisasi jaringan dengan memotong serta menggabungkan jadwal penerbangan
Penulis:
Bobby W
Editor:
Sri Juliati
Ringkasan Berita:
- Warganet mengeluhkan banyaknya cancel dan reschedule tiket (terutama rute ke Bangkok) akibat optimalisasi jaringan dan pemangkasan kapasitas penerbangan sebesar 10 persen
- Lonjakan harga avtur dunia akibat perang membuat biaya bahan bakar AirAsia X membengkak dua kali lipat, sehingga perusahaan harus ambil langkah darurat untuk menjaga stabilitas
- AirAsia X juga resmi menaikkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) sebesar 20 persen dan menaikkan harga tiket rata-rata di kisaran 30-40 persen
TRIBUNNEWS.COM - Beberapa hari belakangan ini warganet Indonesia di media sosial tengah mengeluhkan banyaknya pemesanan tiket penerbangan Maskapai AirAsia mereka yang mendapatkan penjadwalan ulang (Reschedule) hingga pembatalan (Cancel) secara sepihak.
Kebijakan Reschedule dan Cancel ini kebanyakan mendera pada penerbangan dari Indonesia menuju ke Bangkok, Thailand.
Hal tersebut banyak dipertanyakan oleh masyarakat di media sosial seperti Thread.
Menanggapi hal tersebut, Indonesia AirAsia menyampaikan bahwa saat ini perusahaan tengah melakukan penyesuaian operasional sementara.
Chief Commercial AirAsia X, Amanda Woo pada Senin (6/4/2026) mengungkapkan, pihaknya tengah melakukan optimalisasi jaringan.
Optimalisasi ini dilakukan dengan cara memotong jadwal penerbangan serta menggabungkan kapasitas pada beberapa rute utama.
Maskapai mengonfirmasi bahwa sekitar 10 persen kapasitas telah dipangkas dalam jangka pendek menyusul terjadinya konflik tersebut.
Adapun kebijakan ini di Indonesia telah berlaku sejak periode libur lebaran beberapa waktu lalu.
Penyesuaian ini berdampak pada sejumlah penerbangan, termasuk keterlambatan dan pembatalan, sebagai langkah untuk memastikan seluruh operasional tetap memenuhi standar keselamatan yang berlaku.
Menanggapi kekisruhan yang terjadi akibat kebijakan tersebut, Indonesia AirAsia menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh para pelanggannya.
Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama Indonesia AirAsia, Capt. Achmad Sadikin
"Indonesia AirAsia juga memahami bahwa dalam situasi ini, sebagian tamu mungkin belum menerima informasi terkait perubahan penerbangan. Untuk itu, perusahaan telah meningkatkan upaya komunikasi dan layanan guna memastikan seluruh tamu terdampak dapat segera memperoleh informasi dan bantuan yang diperlukan." ungkap Achmad Sadikin melalui rilis yang dibagikan pada 22 Maret 2026 lalu.
Baca juga: Harga Barang-barang di Pasar Bersiap Melonjak Imbas Kenaikan Harga Plastik
Tiket Air AsiaX Resmi Naik
Sementara itu, pihak maskapai juga buka suara terkait kebijakan peningkatan tarif tiket pesawat untuk penerbangan AirAsia X.
AirAsia X adalah anak perusahaan dari AirAsia Group yang khusus melayani rute penerbangan jarak jauh (long-haul) dengan model bisnis bertarif rendah (LCC).
Jika AirAsia biasa seperti Indonesia AirAsia atau AirAsia Malaysia fokus pada rute pendek di bawah 4 jam menggunakan pesawat berbadan kecil , AirAsia X dirancang untuk terbang lebih jauh dengan armada yang lebih besar.
Karena sifat penerbangannya yang lebih jauh, dampak dari krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat perang di Iran sendiri tak bisa dihindari lagi oleh pihak maskapai.
Hal ini bisa dilihat dari kebijakan terbaru AirAsia X pada Senin (6/4/2026) yang secara resmi mengumumkan kebijakan menaikkan harga tiket dan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge .
Langkah drastis ini diambil sebagai upaya perusahaan menghadapi dampak konflik di Timur Tengah yang mengakibatkan harga bahan bakar pesawat dunia melonjak tajam.
Pendiri sekaligus penasihat AirAsia, Tony Fernandes, menjelaskan bahwa AirAsia X akan menjalankan tiga langkah strategis dalam jangka pendek untuk menjaga stabilitas perusahaan.
Langkah tersebut meliputi pemotongan biaya operasional, penaikkan tarif penerbangan, hingga pemangkasan kapasitas kursi penumpang.
Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin ini, Tony Fernandes mengakui bahwa konflik yang kini telah memasuki bulan kedua tersebut menjadi kejutan terbesar bagi AirAsia X.
Padahal, pada Januari lalu, perusahaan baru saja menyelesaikan akuisisi AirAsia Aviation dari Capital A.
"Ini adalah krisis yang nyata... tidak ada cara lain untuk menggambarkannya." ungkap Tony Fernandes.
Namun demikian, ia optimistis dalam menghadapi tantangan ini karena tim yang ia pimpin dinilai sudah teruji untuk menghadapi situasi sulit.
"Kami telah melewati banyak krisis, dan saya pikir tim ini sudah teruji oleh beban perjuangan (berpengalaman luas), dan kami memiliki banyak opsi untuk menghadapi situasi ini," tambah Fernandes.
Sebagai dampak langsung, AirAsia X telah menaikkan fuel surcharge sebesar kurang lebih 20 persen, sementara harga tiket rata-rata mengalami kenaikan cukup signifikan antara 30 hingga 40 persen.
Baca juga: Bos AirAsia Jamin Tarif Maskapainya Tetap Terjangkau meski Ada Krisis BBM
Menurut eksekutif maskapai, kenaikan harga avtur dunia telah membuat biaya bahan bakar AirAsia X membengkak hingga lebih dari dua kali lipat, apalagi saat ini perusahaan tidak memiliki lindung nilai bahan bakar atau fuel hedge.
Lebih lanjut, Tony Fernandes menambahkan bahwa maskapai tidak segan untuk menutup rute-rute penerbangan yang dianggap sudah tidak mampu lagi menutupi biaya bahan bakar.
Di sisi lain, CEO AirAsia X, Bo Lingam, menyatakan bahwa optimalisasi juga dilakukan pada penggunaan armada pesawat.
Dengan adanya pengurangan kapasitas, AirAsia X berencana mengirim armada yang tidak beroperasi untuk menjalani pemeriksaan perawatan atau maintenance check lebih awal.
Strategi ini diambil agar maskapai dapat segera meningkatkan kembali operasional mereka secara maksimal jika perang berakhir lebih cepat dari perkiraan.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.