Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Harga Minyak Dunia Melonjak! Blokade Selat Hormuz Picu Kepanikan Global

Harga minyak melonjak 97 dolar AS usai Iran tutup Selat Hormuz. Bursa Asia melemah, dunia waspada krisis energi ditengah ketidakpastian diplomasi.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan

Di wilayah lain, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,4 persen, dan indeks Shanghai terkoreksi 0,7 persen. Pelemahan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar cenderung menahan langkah di tengah situasi yang belum menentu.

Sebelumnya, sentimen pasar sempat membaik setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran.

Kabar tersebut sempat mendorong penguatan signifikan di Wall Street, dengan indeks S&P 500 naik 2,5 persen, Dow Jones melonjak 2,9 persen, dan Nasdaq menguat 2,8 persen.

Namun, optimisme itu tidak berlangsung lama. Munculnya kembali serangkaian serangan di Lebanon serta keputusan Iran untuk menutup kembali Selat Hormuz membuat pasar kembali diliputi ketidakpastian.

Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang diharapkan menjadi jalan menuju stabilitas justru berada dalam posisi yang rapuh dan berpotensi gagal.

Diplomasi Digenjot! AS Kirim JD Vance ke Meja Negosiasi

Di tengah meningkatnya ketegangan dan ketidakpastian situasi geopolitik, upaya diplomasi untuk meredakan konflik masih terus berlangsung.

Sejumlah pihak kini berupaya mendorong dialog lanjutan guna mencapai kesepakatan damai yang lebih permanen antara Iran dan Amerika Serikat.

Rekomendasi Untuk Anda

Perundingan lanjutan direncanakan akan digelar di Pakistan, yang disebut berperan sebagai mediator dalam proses negosiasi tersebut.

Pertemuan yang akan digelar pada Jumat (10/4/2026) diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali komitmen gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati, namun kini mulai dipertanyakan akibat berbagai insiden pelanggaran di lapangan.

Dari pihak Amerika Serikat, Wakil Presiden JD Vance disebut akan memimpin langsung tim negosiasi. 

Keterlibatan pejabat tinggi ini menunjukkan bahwa Washington menaruh perhatian serius terhadap upaya penyelesaian konflik secara diplomatik.

Meski demikian, para pengamat menilai proses perundingan tidak akan berjalan mudah. Perbedaan kepentingan, tudingan pelanggaran, serta eskalasi militer yang masih terjadi di kawasan menjadi tantangan besar dalam mencapai kesepakatan damai yang benar-benar stabil dan berkelanjutan.

(Tribunnews.com / Namira)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas