Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

'Gaskan' Gas: Menggeser Cara Pandang

Akar persoalan ketahanan energi Indonesia bukan semata terletak pada dinamika geopolitik yang berimbas gejolak harga minyak dunia. 

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Dewi Agustina
zoom-in 'Gaskan' Gas: Menggeser Cara Pandang
dok PHE
SUMUR GAS - Gas harus memperkuat industri pupuk nasional, menopang ketahanan pangan, menghidupkan petrokimia, menjaga listrik industri tetap kompetitif, dan memperkuat ekspor bernilai tambah. Foto Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui anak perusahaannya, Pertamina Hulu Energi Randugunting (PHER) sukses bersinergi dengan PT Patra Drilling Contractor (PDC) dengan telah beroperasinya fasilitas produksi sumur gas yang dikerjakan dengan waktu 1,5 bulan dari target pengerjaan 6 bulan. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Rusman Madjulekka
Wartawan Senior dan penulis buku, lulusan Universitas Hasanuddin Makassar

 

"SALAH MERENCANAKAN berarti sama dengan merencanakan kegagalan". Begitulah kira-kira suara peringatan yang belakangan ini nyaring terdengar. 

Hal ini merespons pengumuman pemerintah terkait penemuan sumur gas raksasa Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur oleh Eni (Italia) menjadi sorotan media internasional. 

Bahkan Reuters menyebutnya major offshore gas discovery, dengan estimasi sekitar 5 triliun kaki kubik (TCF) gas dan sekitar 300 juta barel kondensat.

Dan apabila digabungkan dengan temuan gas sebelumnya sekitar 2 TCF, maka hanya dari satu kawasan Cekungan Kutai, Indonesia telah menambah sekitar 7 TCF cadangan strategis baru. 

Dibalik setiap penemuan cadangan migas baru, selalu diikuti rasa kekhawatiran. 

Rekomendasi Untuk Anda

Apakah kandungan gas yang besar itu bisa mendongkrak kesejahteraan rakyat? Atau jangan-jangan hanya sampai di euphoria sesaat, setelah itu tidak jelas arahnya.

Jawabannya: tergantung strategi kebijakan energi yang diambil pemerintah. Akankah mengulang kisah masa lalu? Atau kita kembali menjadi negeri yang mendapat kutukan sumber daya alam. 

Rasanya sudah cukup kita mendapat pelajaran berharga dari East Natuna atau Natuna D-Alpha, salah satu ladang gas terbesar di dunia. 

Dengan cadangan yang dapat diproduksikan sekitar 46 TCF. Sayangnya, selama bertahun-tahun, Natuna lebih dikenal sebagai proyek yang tertunda daripada proyek yang bergerak. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Rusman Madjulekka
Wartawan Senior dan penulis buku, lulusan Universitas Hasanuddin Makassar

 

Atau kurangnya cadangan. Tapi ada pada cara pandang jangka pendek yang telah menahun dalam pengambilan kebijakan. Kalau mau jujur, kita terlalu sering memperlakukan sumber daya sebagai hasil akhir, bukan modal awal. 

Gas, misalnya, masih terlalu sering dibaca hanya sebagai penerimaan negara atau ekspor jangka pendek. 

Kita terlena dan dininabobokan kenyamanan semu. Padahal, nilai strategis sesungguhnya terletak pada hilirisasi: pupuk, petrokimia, listrik industri, LNG, manufaktur, hingga daya saing ekspor nasional. 

Kita bisa berkaca pada negara lain. Norwegia, misalnya, tidak kaya karena minyak. Ia kaya karena tata kelola minyak. Di Asia, Qatar, tidak menjadi “raja gas” karena hanya memiliki cadangan besar. Ia kuat karena strategi geopolitik gas.

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas