Delegasi Iran: Di Masa Lalu AS Kerap Ingkari Perjanjian
Iran sepenuhnya siap menghadapi semua skenario dalam negosiasi yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat (AS).
Editor:
Hasanudin Aco
Update info terbaru
- Tidak ada kesepakatan: Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan tidak ada kesepakatan yang tercapai dengan Iran setelah pembicaraan maraton di Pakistan. Iran tidak mau berkomitmen untuk meninggalkan senjata nuklir, kata Vance.
- Khawatir ingkar janji : Kementerian Luar Negeri Iran trauma dengan perjanjian AS jika belajar di masa lalu AS kerap ingkar janji dan kerap menerapkan pola penipuan.
- Tanggapan Pakistan: Islamabad “telah dan akan terus” memainkan perannya sebagai mediator kata menteri luar negeri negara itu setelah pembicaraan berakhir.
- Serangan terhadap Lebanon: Serangan mematikan Israel di selatan negara itu berlanjut semalaman sementara perundingan mengalami kebuntuan . Salah satu serangan mengenai sebuah rumah, mengakibatkan kematian dan luka-luka, menurut laporan media pemerintah.
TRIBUNNEWS.COM, PAKISTAN - Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum, Kazem Gharibabadi, mengatakan bahwa Republik Islam Iran sepenuhnya siap menghadapi semua skenario dalam negosiasi yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat (AS).
Berbicara di sela-sela pembicaraan yang dimediasi Pakistan di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026), Gharibabadi mengatakan bahwa diskusi saat ini berbeda secara signifikan dari putaran sebelumnya.
Terutama, menurut dia, karena peningkatan posisi strategis Iran dan pelajaran yang dipetik dari negosiasi semacam ini di masa lalu.
Gharibabadi, yang juga anggota delegasi Iran dalam perundingan dengan AS, menghubungkan perubahan dinamika pembicaraan tersebut dengan pengalaman historis Iran dengan AS di masa lalu.
Dimana AS kerap ingkar janji dan kerap menerapkan pola penipuan.
“Mengingat pengalaman dari pembicaraan sebelumnya, putaran pembicaraan kali ini pada dasarnya berbeda dari yang sebelumnya terutama mengingat sejarah ketidakjujuran, penipuan, dan pelanggaran janji oleh pihak Amerika dalam pembicaraan sebelumnya,” kata Gharibabadi dikutip dari Tasnim News, Minggu (12/4/2026).
Diplomat senior Iran itu selanjutnya menekankan bahwa putaran perundingan ini bukan sekadar pengulangan kerangka kerja sebelumnya, tetapi mewakili pendekatan yang lebih tegas dan "berorientasi pada tuntutan".
Gharibabadi menekankan bahwa kehadiran perwakilan militer tingkat tinggi dalam negosiasi tersebut merupakan indikator kuat keseriusan dan tekad Iran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Ia menyatakan optimisme bahwa pengalaman dan tekad yang ditunjukkan oleh delegasi Iran dapat menghasilkan terobosan dalam perundingan.
Gharibabadi lebih lanjut menyoroti bahwa keberhasilan militer Iran baru-baru ini melawan agresi Israel-AS telah memperkuat posisinya di meja perundingan.
Gharibabadi lebih lanjut menyatakan bahwa kendali strategis Iran atas Selat Hormuz dan kehadiran kedaulatannya di wilayah ini telah memainkan peran penting dalam memaksa AS untuk terlibat secara berarti dalam pembicaraan.
AS dan Iran melakukan perundingan di Pakistan sejak kemarin dengan harapan diperoleh perjanjian 'damai'.
Dalam perundingan dengan AS, Iran mengirim tim negosiasi atau negosiator yakni Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, Eks Kepala Keamanan Iran Ali Akbar Ahmadian, dan Eks Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati.
Sementara Presiden AS Donald Trump mengirim tiga tokoh sebagai tim negosiasi (negosiator) yakni Wakil Presiden AS JD Vance, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff, dan menantu Trump yakni Jared Kushner.
Baca tanpa iklan