Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Netanyahu Naik Pitam, Sebut Trump Salah Langkah karena Tunda Serangan ke Iran

Netanyahu murka usai Trump tunda serangan ke Iran. Israel desak aksi militer, sementara AS memilih jalur diplomasi dan negosiasi.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Ringkasan Berita:
  • PM Netanyahu dikabarkan marah kepada Presiden AS Donald Trump setelah Washington menunda serangan terhadap Iran dan memilih membuka jalur diplomasi. 
  • Israel menganggap Iran sebagai ancaman utama keamanan nasional. Karena itu, Tel Aviv mendesak AS tetap melanjutkan operasi militer, sementara Trump memilih negosiasi demi mencegah konflik Timur Tengah meluas menjadi perang besar.
  • Meski ketegangan meningkat, Iran dan AS ternyata masih saling bertukar pesan melalui Pakistan sebagai mediator. 

TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan kemarahannya kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah Washington memilih membuka jalur diplomasi dengan Iran dibanding melanjutkan serangan militer.

Hal itu terungkap setelah sumber Israel menyebut bahwa hubungan Netanyahu dan Trump memanas setelah keduanya terlibat percakapan sengit via sambungan telepon pada saat membahas strategi perang terhadap Iran.

Sebelumnya Washington dikenal mendukung tekanan militer dan strategi agresif terhadap Teheran. Namun awal pekan ini Trump memutuskan untuk menghentikan rencana serangan terhadap Iran.

Keputusan penundaan tersebut diambil setelah sejumlah negara Arab di kawasan Timur Tengah meminta Washington memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi dan negosiasi.

Perubahan sikap tersebut sontak memicu kekecewaan Netanyahu hingga dia mendesak Amerika Serikat tetap melanjutkan operasi militer sesuai rencana awal karena menurutnya menunda serangan terhadap Iran merupakan langkah yang salah.

Pasalnya, pemerintah Israel selama ini memandang Iran sebagai ancaman utama bagi keamanan nasionalnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Israel menilai program rudal dan pengaruh militer Iran di kawasan Timur Tengah terus berkembang dan berpotensi memperkuat kelompok-kelompok sekutu Teheran di wilayah konflik.

Kondisi itulah yang membuat sebagian pejabat Israel merasa diplomasi justru dapat memperbesar risiko keamanan di masa depan. 

Mereka khawatir Iran akan memanfaatkan proses negosiasi untuk memperkuat posisi militernya sambil menghindari tekanan internasional.

Selain faktor keamanan, perbedaan pendekatan ini juga dipengaruhi kepentingan politik masing-masing pemimpin.

Perbedaan inilah yang kemudian memicu ketegangan antara Washington dan Tel Aviv. Israel ingin tekanan militer terhadap Iran terus ditingkatkan, sedangkan AS mulai mempertimbangkan penyelesaian melalui negosiasi untuk mencegah konflik regional yang lebih luas.

Baca juga: Iran Bangkit, 80 Persen Kekuatan Militer Pulih setelah Digempur AS-Israel

Iran dan AS Masih Bertukar Pesan

Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, jalur komunikasi diplomatik ternyata masih terus berjalan.

Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa pembicaraan tidak langsung dengan Washington tetap berlangsung meskipun situasi politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah semakin memanas.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Teheran dan Washington saat ini masih saling bertukar pesan melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator.

Menurut Baghaei, komunikasi tersebut dilakukan berdasarkan proposal awal Iran yang terdiri dari 14 poin pembahasan. 

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas