Selat Hormuz Jadi Medan Baru Rivalitas Amerika Serikat-China
langkah China tidak serta-merta akan memaksa Washington mundur, bahkan justru berpotensi memicu eskalasi.
Editor:
Wahyu Aji
Awal Konfrontasi Global yang Lebih Luas
Helmy menilai langkah China di Selat Hormuz merupakan awal dari konfrontasi tidak langsung dengan AS yang melampaui aspek ekonomi.
“Ini adalah tantangan langsung China terhadap blokade Amerika terhadap Teheran,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Beijing juga memanfaatkan celah strategis akibat fokus Washington di kawasan Teluk untuk memperluas pengaruhnya di wilayah lain, seperti Laut China Selatan dan Taiwan.
Di sisi lain, China tetap memainkan peran diplomatik aktif, termasuk sebagai mediator dalam pembicaraan gencatan senjata antara Teheran dan Washington, guna menunjukkan kapasitasnya sebagai pengelola krisis global.
Sinyal Kesiapan China
Dalam analisisnya, Helmy menyebut situasi saat ini sebagai bentuk “internasionalisasi paksa” dari krisis di Selat Hormuz.
“China tidak akan puas hanya dengan tekanan ekonomi jika pasokan energinya dari Iran terancam,” tegasnya.
China juga menegaskan kehadiran militernya di kawasan tersebut sebagai langkah rutin untuk mengamankan rantai pasok.
Selain itu, Beijing mendorong pembentukan aliansi regional untuk menghadapi intervensi asing.
Sebagai langkah antisipasi, China meningkatkan cadangan minyak strategisnya hingga 1,2 miliar barel, cukup untuk 109 hari konsumsi, guna mengurangi dampak gangguan pasokan.
Helmy menyimpulkan bahwa jaminan China terhadap Iran justru memperumit situasi dan mendorong AS meningkatkan tekanan, termasuk melalui blokade laut.
“Kondisi ini meningkatkan kemungkinan konfrontasi langsung antara kekuatan besar di Selat Hormuz,” pungkasnya.
Baca tanpa iklan