Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.518, AS Tetap Longgarkan Sanksi Minyak, Kremlin Sumringah

AS memperpanjang pelonggaran sanksi minyak Rusia, Kremlin sambut keputusan itu dan menyebut dunia tak bisa mengabaikan minyak Rusia di tengah krisis.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.518, AS Tetap Longgarkan Sanksi Minyak, Kremlin Sumringah
Kantor Berita Rusia TASS/Sergey Karpukhin
DMITRY PESKOV - Foto Dmitry Peskov diambil dari kantor berita Rusia TASS pada hari Kamis (13/3/2025) yang menunjukkan juru bicara Kremlin Dmitry Peskov. Foto ini diambil oleh oleh Sergey Karpukhin pada November 2023. - AS memperpanjang pelonggaran sanksi minyak Rusia, Kremlin sambut keputusan itu dan menyebut dunia tak bisa mengabaikan minyak Rusia di tengah krisis akibat agresi AS di Iran. 
Ringkasan Berita:
  • Kremlin menyebut pengecualian sanksi AS atas minyak Rusia menunjukkan peran pentingnya dalam pasar energi global.
  • AS memperpanjang izin pembelian minyak Rusia hingga 16 Mei untuk menekan lonjakan harga akibat perang AS-Israel Vs Iran dan penutupan Selat Hormuz.
  • Sejumlah negara Asia mulai mengimpor minyak Rusia, sementara harganya kini melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel.
  • Pendapatan minyak Rusia pun naik tajam, meski kebijakan ini dikritik Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.518 pada Selasa (21/4/2026).

Pemerintah Rusia melalui Kremlin menyatakan bahwa keputusan Amerika Serikat untuk kembali memberikan pengecualian sanksi terhadap ekspor minyak Rusia menunjukkan betapa pentingnya peran negara tersebut dalam pasar energi global.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Rusia tetap menjadi pemasok energi yang signifikan, terutama di tengah kondisi pasar yang sedang tidak stabil.

“Rusia tetap menjadi pemain yang bertanggung jawab dan sangat penting di pasar energi global,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan, Senin (20/4/2026).

“Pasar sedang mengalami masa-masa sulit dan, tentu saja, volume produksi Rusia sulit untuk diabaikan," tambahnya.

Departemen Keuangan AS sebelumnya memperpanjang izin pembelian minyak Rusia untuk periode 17 April hingga 16 Mei.

Kebijakan ini diambil sebagai upaya menekan lonjakan harga energi dunia yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Rekomendasi Untuk Anda

Beberapa negara di Asia bahkan mendorong kebijakan ini, karena mereka membutuhkan alternatif pasokan akibat terganggunya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Iran memblokir akses bagi kapal-kapal terkait AS dan Israel, sebagai bentuk perlawanan terhadap agresi AS-Israel sejak 28 Februari di wilayahnya.

Sejumlah negara mulai memanfaatkan peluang tersebut. Indonesia, misalnya, telah mengumumkan kesepakatan baru untuk mengimpor minyak mentah Rusia, sementara Malaysia melalui perusahaan energi nasionalnya, Petronas, juga tengah menjajaki pembelian serupa.

Baca juga: Indonesia-Malaysia Berburu Minyak ke Rusia, tapi Emas Hitam Moskow Jadi Target Serangan Ukraina

Selain itu, Korea Selatan dan Filipina sudah lebih dulu membeli minyak Rusia setelah pelonggaran sanksi sebelumnya. Di sisi lain, ekspor minyak Rusia ke China juga mengalami peningkatan signifikan.

Menariknya, harga minyak Rusia yang sebelumnya dijual dengan diskon sejak invasi ke Ukraina pada 2022, kini justru melonjak dan diperdagangkan dengan harga premium.

Jenis minyak andalan Rusia, Urals, bahkan tercatat menembus harga di atas 100 dolar AS per barel sepanjang April. Hal ini terjadi akibat gangguan pasokan energi global yang semakin besar.

Namun, kebijakan AS ini mendapat kritik dari Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang menilai langkah tersebut justru menguntungkan Rusia.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa pemerintah tidak berencana memberikan perpanjangan tambahan di masa mendatang.

Data dari Badan Energi Internasional menunjukkan bahwa pendapatan Rusia dari ekspor minyak melonjak tajam hingga 19 miliar dolar AS pada Maret, naik drastis dibandingkan Februari yang hanya sekitar 9,75 miliar dolar AS.

Lonjakan ini menunjukkan betapa besarnya dampak kebijakan energi global terhadap perekonomian Rusia, menurut laporan Moscow Times.

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang Rusia dan Ukraina secara resmi dimulai pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan invasi besar-besaran. Namun, konflik ini sebenarnya sudah berakar sejak lama, terutama karena Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat, yang dianggap mengancam kepentingan Rusia.

Ketegangan meningkat sejak Revolusi Maidan tahun 2014 yang mengubah arah politik Ukraina menjadi lebih pro-Barat. Sebagai reaksi, Rusia mencaplok Krimea dan konflik bersenjata terjadi di wilayah Donbas antara Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.

Pada 2022, Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi militer dengan alasan melindungi warga berbahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO. Namun, langkah ini mendapat kecaman luas dari banyak negara di dunia.

Sebagai balasan, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia serta memberikan bantuan militer dan keuangan kepada Ukraina. Hingga saat ini, perang masih berlangsung dan berdampak besar pada ekonomi global serta stabilitas dunia, sementara upaya perdamaian masih terus menghadapi berbagai tantangan.

Berikut ini perkembangan perang Rusia dan Ukraina yang dirangkum dari berbagai sumber:

  • Pinjaman Uni Eropa untuk Ukraina Segera Dicairkan

Negara-negara Uni Eropa akan mulai mencairkan pinjaman sebesar €90 miliar untuk Ukraina pada hari Rabu. 

Keputusan ini terjadi setelah melemahnya posisi Viktor Orbán di Hongaria usai kekalahan pemilu.

Perdana menteri sementara tersebut sebelumnya menghambat pinjaman, namun akan digantikan oleh Peter Magyar yang berkomitmen memperbaiki hubungan dengan Uni Eropa dan mengkritik kedekatan Orbán dengan Rusia, dikutip dari The Guardian.

  • Hongaria Siap Cabut Penolakan Pinjaman Ukraina

Perdana menteri Hongaria yang kalah dalam pemilu, Viktor Orbán, menyatakan bahwa Hongaria akan mencabut keberatannya terhadap pinjaman Uni Eropa untuk Ukraina.

Hal ini menyusul sinyal dari Ukraina melalui Brussel bahwa pengiriman minyak ke Hongaria melalui pipa Druzhba akan dipulihkan.

  • Harapan Baru Dukungan Uni Eropa untuk Ukraina

Viktor Orbán menyebut bahwa pemulihan aliran minyak akan membuat Hongaria tidak lagi menghalangi pinjaman tersebut, meski sebelumnya ia kerap menghambat dukungan bagi Ukraina. 

Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai kepergian Viktor Orbán dari kepemimpinan Hongaria membuka peluang besar bagi kemajuan dan pelaksanaan pinjaman Uni Eropa.

"Kita dapat cukup optimis tentang kemajuan dan implementasi yang baik dari pinjaman Uni Eropa," kata Macron.

  • Jerman Tegas Hadapi Ancaman Rusia

Pemerintah Jerman memanggil duta besar Rusia terkait dugaan ancaman langsung terhadap target di wilayahnya. 

Berlin menilai ancaman ini sebagai upaya melemahkan dukungan terhadap Ukraina dan menegaskan tidak akan gentar menghadapi tekanan tersebut.

"Ancaman tersebut merupakan upaya untuk melemahkan dukungan kami terhadap Ukraina dan menguji persatuan kami," kata Kementerian Luar Negeri Jerman.

"Tanggapan kami jelas: kami tidak akan terintimidasi. Ancaman semacam itu dan semua bentuk spionase di Jerman sama sekali tidak dapat diterima," tegasnya.

  • Rusia Soroti Perusahaan Jerman Terkait UAV Ukraina

Kementerian Pertahanan Rusia merilis daftar perusahaan, termasuk tiga dari Jerman, yang dituding memasok drone ke Ukraina. 

Rusia memberi sinyal bahwa perusahaan-perusahaan tersebut bisa menjadi target, sebagai bagian dari daftar lebih luas berisi 21 entitas terkait industri pertahanan Ukraina.

“Masyarakat Eropa tidak hanya harus memahami dengan jelas penyebab mendasar dari ancaman terhadap keselamatan mereka, tetapi juga mengetahui alamat, serta lokasi perusahaan 'Ukraina' dan 'gabungan' yang memproduksi UAV dan komponennya untuk Ukraina di negara mereka,” kata Kementerian Pertahanan Rusia.

  • Rusia Tangkap Warga Jerman Terkait Dugaan Aksi Teror

Otoritas Rusia mengumumkan penangkapan seorang perempuan asal Jerman yang diduga terlibat rencana peledakan fasilitas layanan.

Ia ditangkap di Pyatigorsk dengan membawa bahan peledak, sementara pemerintah Jerman memilih tidak memberikan komentar lebih lanjut.

  • Korban Penembakan Massal di Kyiv Bertambah

Jumlah korban tewas dalam penembakan massal di Kyiv meningkat menjadi tujuh orang setelah satu korban meninggal di rumah sakit. 

Pelaku, seorang pria kelahiran Rusia, menembaki warga sebelum menyandera orang di supermarket dan akhirnya ditembak mati oleh polisi.

  • Europol Lacak Anak Ukraina yang Dideportasi

Europol berhasil mengidentifikasi 45 anak Ukraina yang diduga dipindahkan secara paksa ke Rusia melalui sebuah kegiatan hackathon.

Badan penegak hukum Uni Eropa, Europol, mengatakan upaya ini melibatkan 40 penyelidik dari 18 negara yang menggunakan intelijen sumber terbuka (Osint) untuk menelusuri keberadaan anak-anak tersebut.

  • ICC Keluarkan Surat Penangkapan Terkait Penculikan Anak

Informasi tentang 45 anak yang ditemukan telah diserahkan kepada otoritas Ukraina untuk penyelidikan lanjutan.

Sebagian anak diketahui diadopsi oleh warga Rusia atau ditempatkan di institusi tertentu.

“Secara total, informasi tentang 45 anak telah ditemukan dan dibagikan kepada pihak berwenang Ukraina untuk membantu penyelidikan mereka yang sedang berlangsung,” kata Europol.

“Beberapa anak ini telah diadopsi oleh warga negara Rusia, sementara yang lain ditahan di kamp pendidikan ulang atau rumah sakit jiwa," tambahnya.

Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) sebelumnya mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Vladimir Putin dan Maria Lvova-Belova atas dugaan penculikan tersebut.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas