Dari Pakistan, Menlu Iran Abbas Araghchi Terbang ke Rusia Temui Putin
Abbas Araghchi melakukan perjalanan ke Rusia untuk bertemu Vladimir Putin. Upaya perdamaian Iran dan Amerika Serikat masih belum mencapai kepastian.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Abbas Araghchi melakukan perjalanan ke Rusia untuk bertemu Vladimir Putin.
- Upaya perdamaian Iran dan Amerika Serikat masih belum mencapai kepastian.
- Iran menawarkan pembukaan Selat Hormuz sambil menunda pembahasan nuklir.
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuju Rusia pada Minggu (26/4/2026) ketika upaya perdamaian antara Iran dan AS masih belum pasti, buntut serangkaian diplomasi yang gagal di Pakistan.
Mengutip RNZ, Menlu Abbas Araghchi sebelumnya mengunjungi Oman di sela kunjungannya ke ibu kota Pakistan, Islamabad.
Araghchi bertemu dengan kepala militer Pakistan Asim Munir, Perdana Menteri Shehbaz Sharif, dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, sebelum melakukan perjalanan ke Oman dan kembali ke Islamabad.
Ia diperkirakan tiba di St Petersburg pada Senin untuk bertemu Presiden Vladimir Putin, menurut duta besar Iran.
Kantor berita negara Iran, IRNA, melaporkan pada Minggu bahwa Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov juga akan ikut serta dalam pembicaraan tersebut.
Sebelumnya pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump membatalkan kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad.
Sebagai tanda bahwa upaya diplomasi masih berlangsung, kantor berita Fars mengatakan Iran telah mengirimkan "pesan tertulis" kepada Amerika melalui mediator Pakistan yang menguraikan garis merah, termasuk masalah nuklir dan Selat Hormuz.
Namun, Fars menyebut pesan tersebut bukan bagian dari negosiasi formal.
Gencatan senjata dalam perang AS-Israel dengan Iran sejauh ini masih berlaku, tetapi dampak ekonominya terus terasa.
Iran telah menutup Selat Hormuz, memutus aliran minyak, gas, dan pupuk, serta menyebabkan harga melonjak, yang meningkatkan kekhawatiran akan kerawanan pangan di negara-negara berkembang.
Harapan untuk perundingan sempat berpusat pada kunjungan yang direncanakan oleh Witkoff dan Kushner, tetapi Trump membatalkan perjalanan tersebut.
Trump menyebut pertemuan itu "hanya duduk-duduk dan membicarakan hal-hal yang tidak penting".
Baca juga: Harga Minyak Naik 2 Persen karena Gagalnya Perundingan AS-Iran, Brent Jadi 107,55 USD
Pada Minggu, Trump mengatakan kepada Fox News:
"Jika Iran menginginkan perundingan, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka dapat menghubungi kami. Anda tahu ada telepon, kami memiliki saluran yang aman dan bagus."
Di sisi lain, Trump menghadapi tekanan domestik karena harga bahan bakar naik setelah penutupan Hormuz, dengan pemilihan paruh waktu yang akan digelar pada November.
Jajak pendapat menunjukkan perang tersebut tidak populer di kalangan warga Amerika.
Ketika ditanya apakah pembatalan tersebut menandakan dimulainya kembali pertempuran, Trump menjawab: "Tidak, itu tidak berarti demikian."
Iran Menawarkan Kesepakatan kepada AS untuk Membuka Kembali Selat Hormuz dan Menunda Pembicaraan Nuklir
Dalam perkembangan terbaru, Iran menawarkan kesepakatan kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan membantu mengakhiri perang, sambil menunda pembicaraan tentang program nuklirnya ke tahap selanjutnya, lapor Axios.
Menurut laporan tersebut, proposal itu disampaikan kepada AS melalui mediator Pakistan setelah kegagalan pembicaraan di Islamabad.
Tawaran tersebut akan memprioritaskan pembukaan kembali jalur air strategis dan meredakan konflik, sementara isu nuklir yang lebih kontroversial ditunda ke negosiasi berikutnya.
Trump diperkirakan akan mengadakan pertemuan di Situation Room pada Senin (27/4/2026) terkait Iran bersama tim keamanan nasional dan kebijakan luar negeri utamanya, menurut tiga pejabat AS.
Baca juga: Iran Minta Blokade Dicabut, Trump Batalkan Misi Utusan AS ke Pakistan: Mereka Bisa Telepon Kami
Salah satu pejabat mengatakan pertemuan tersebut akan membahas kebuntuan dalam negosiasi dengan Iran serta opsi langkah selanjutnya dalam perang.
Trump mengisyaratkan dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu bahwa ia ingin melanjutkan blokade angkatan laut.
Ia berharap blokade itu akan membuat Iran menyerah dalam beberapa minggu ke depan ketika fasilitas minyaknya berisiko runtuh akibat ketidakmampuan mengekspor minyak.
"Ketika Anda memiliki sejumlah besar minyak yang mengalir melalui sistem Anda, jika karena alasan apa pun jalur ini ditutup karena Anda tidak dapat memasukkannya ke dalam kontainer atau kapal, maka jalur itu bisa meledak dari dalam. Mereka mengatakan hanya memiliki sekitar tiga hari sebelum itu terjadi," kata Trump.
"Dan ketika meledak, Anda tidak akan pernah bisa membangunnya kembali seperti semula. Itu hanya akan menjadi 50 persen dari kondisi sekarang. Jadi saya pikir mereka berada di bawah tekanan."
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.