21 Jam Tanpa Hasil! Iran Mengadu ke Putin, Sebut AS Terlalu Banyak Mau
Negosiasi 21 jam Iran-AS gagal. Abbas Araghchi sebut tuntutan AS berlebihan. Iran perkuat hubungan dengan Rusia demi dukungan di tengah tekanan Barat
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Ringkasan Berita:
- Negosiasi 21 jam gagal total ,Abbas Araghchi menyalahkan AS karena tuntutan berlebihan dan pendekatan yang dinilai memaksakan kehendak.
- Delegasi AS di bawah JD Vance mengandalkan tekanan kekuatan, sementara Iran menganggap konflik sebagai ancaman eksistensial dan menolak kompromi.
- Di tengah kebuntuan, Iran mendekat ke Vladimir Putin untuk memperkuat dukungan dan posisi diplomatik menghadapi tekanan Barat.
TRIBUNNEWS.COM - Upaya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu lantaran negosiasi perdamaian putaran kedua yang berlangsung di Islamabad, Pakistan selama 21 jam berakhir tanpa kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka menyalahkan Amerika Serikat atas kegagalan tersebut. Ia menilai Washington mengajukan tuntutan yang berlebihan dan menggunakan pendekatan yang keliru selama proses perundingan.
Keluhan itu disampaikan Araghchi saat tiba di St. Petersburg, Rusia, pada Senin (27/4/2026). Dalam keterangannya, ia mengakui bahwa sempat ada tanda-tanda kemajuan selama negosiasi berlangsung.
Namun, upaya tersebut akhirnya tidak membuahkan hasil karena sikap Amerika yang dinilai terlalu memaksakan kehendak.
“Ada beberapa tanda kemajuan dalam negosiasi. Akan tetapi, pendekatan Amerika menyebabkan putaran sebelumnya gagal mencapai tujuan. Ini terjadi karena tuntutan mereka yang berlebihan dan pendekatan yang salah,” ujar Araghchi, mengutip dari Politico.
Penyebab Utama Negosiasi AS-Iran Buntu
Adapun kebuntuan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat tidak terjadi tanpa sebab. Sejumlah faktor menjadi pemicu utama gagalnya perundingan, terutama perbedaan cara pandang yang tajam terhadap konflik yang sedang berlangsung.
Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance dilaporkan datang dengan pendekatan berbasis kekuatan.
Mereka berasumsi bahwa pihak yang memiliki keunggulan militer akan berada di posisi penentu dalam hasil akhir konflik. Cara pandang ini kemudian tercermin dalam sikap negosiasi yang cenderung menekan Iran agar mengikuti tuntutan yang diajukan.
Namun, strategi tersebut justru tidak membuahkan hasil. Tekanan yang diberikan Amerika dinilai menjadi bumerang karena tidak mempertimbangkan posisi Iran yang melihat konflik ini sebagai ancaman terhadap keberlangsungan negaranya.
Baca juga: Iran Tawarkan Kesepakatan Akhiri Blokade Hormuz Tanpa Bahas Nuklir, Trump Belum Luluh
Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap yang jauh lebih keras. Bagi Teheran, isu yang dibahas dalam negosiasi bukan sekadar kepentingan politik jangka pendek, melainkan menyangkut eksistensi negara. Hal ini membuat delegasi Iran memilih untuk tidak berkompromi terhadap tuntutan yang dianggap merugikan.
Situasi ini semakin kompleks karena Presiden AS, Donald Trump, secara mendadak membatalkan rencana pengiriman utusan khusus seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner ke meja perundingan.
Dalam pernyataan di platform Truth Social, Trump menyindir keras proses negosiasi yang dianggap tidak efektif.
“Mereka bisa menghubungi kami kapan saja, tapi tidak perlu lagi penerbangan 18 jam hanya untuk membicarakan hal yang tidak penting.”
Meski kesepakatan tersebut masih berlaku, kondisi di lapangan dinilai rapuh dan berpotensi kembali memicu eskalasi konflik sewaktu-waktu.
Kegagalan perundingan ini memperlihatkan bahwa upaya diplomasi masih menghadapi tantangan besar. Tanpa adanya perubahan pendekatan, khususnya dari pihak Amerika Serikat, peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat dinilai masih sangat kecil.
Baca tanpa iklan