Komandan CENTCOM Bakal Beri Pengarahan Baru ke Trump, Perang Iran Pecah Lagi?
Dalam sebuah laporan menyebutkan, Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper dijadwalkan akan memberi pengarahan baru kepada Presiden Donald Trump.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Endra Kurniawan
Washington hanya akan melunakkan sanksi jika Iran menunjukkan itikad baik dan memenuhi seluruh tuntutan AS terkait program nuklirnya.
Langkah berani ini diprediksi bakal memicu reaksi keras dari kawasan Timur Tengah, mengingat keterlibatan pasukan darat di Selat Hormuz dapat memicu eskalasi konflik terbuka yang lebih luas.
Komunikasi AS-Iran Masih Terjalin
Meski sebelumnya sempat menolak mentah-mentah usulan Iran soal Selat Hormuz, Trump mengaku komunikasi dua negara masih terjalin.
"Kami sedang berbicara dengan mereka (Iran) melalui telepon dan berbagai saluran lainnya," ungkap Trump kepada awak media di Gedung Putih, Rabu waktu setempat, mengutip The Times of Israel.
Sebelumnya, Iran sempat menyodorkan tawaran untuk menjamin keamanan di Selat Hormuz — jalur krusial bagi pasokan minyak dunia.
Syaratnya satu, yaitu AS harus mencabut sanksi ekonomi yang mencekik negara para Mullah tersebut.
Baca juga: Biaya Perang Iran Tembus Rp434 T, Menhan AS: Demi Keselamatan Rakyat Amerika!
Namun, alih-alih menyambut baik, Trump justru melabeli tawaran itu "tidak bisa diterima".
Bagi Trump, Iran tidak bisa sekadar berjanji soal jalur laut, tapi harus berhenti total dari aktivitas nuklir dan menyetop dukungan bagi kelompok militan di Timur Tengah.
Langkah Trump ini menegaskan bahwa strategi "tekanan maksimum" masih menjadi senjata utama Washington.
Trump seolah ingin menunjukkan bahwa AS tidak akan luluh hanya karena gertakan di jalur perdagangan minyak.
Kondisi di Selat Hormuz sendiri saat ini masih mencekam.
Setelah insiden sabotase kapal tanker dan penembakan jatuh drone militer AS beberapa waktu lalu, kehadiran militer kedua negara di kawasan tersebut membuat dunia was-was akan potensi pecahnya perang terbuka.
Meski mengaku masih "teleponan", banyak analis menilai pernyataan Trump ini hanyalah diplomasi di permukaan.
Kenyataannya, kedua negara masih terlibat dalam adu urat syaraf yang sengit, di mana ekonomi Iran terus ditekan dan AS tetap bersiaga dengan armada perangnya di teluk.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Baca tanpa iklan