Harga Minyak Dunia Tembus 126 Dolar, Melesat ke Level Tertinggi dalam 4 Tahun Buntut Perang
Harga minyak dunia tembus 126 dolar, tertinggi 4 tahun! Konflik AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz picu krisis energi global yang mengancam ekonomi.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak dunia kembali melonjak tajam hingga mencapai level tertinggi sejak tahun 2022 buntut ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Terutama setelah Donald Trump mempertimbangkan perpanjangan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pada perdagangan Kamis (30/4/2026) harga minyak mentah jenis Brent yang menjadi patokan global tembus di kisaran 126 dolar AS atau Rp 2,1 juta (kurs Rp17.354 ) per barel sebelum terkoreksi tipis ke kisaran 124 dolar.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebagai acuan Amerika Serikat juga mengalami kenaikan signifikan hingga melesat jadi 110 dolar atau Rp 1.9 juta per barel.
Kenaikan harga minyak ini tidak terjadi tanpa sebab. Pasar energi global saat ini tengah dibayangi kekhawatiran atas konflik berkepanjangan antara AS dan Iran.
Negosiasi yang sebelumnya diharapkan mampu meredakan situasi justru mengalami kegagalan, sehingga memperpanjang ketidakpastian.
Salah satu faktor krusial adalah penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sebagian besar distribusi minyak dan gas dunia. Penutupan jalur ini membuat pasokan energi global terganggu secara signifikan.
Dalam pertemuan internal, Trump dikabarkan ingin melanjutkan blokade angkatan laut terhadap Iran. Bahkan, rencana tersebut mencakup kemungkinan memperpanjang penutupan Selat Hormuz dalam jangka waktu lebih lama.
Kondisi ini langsung memicu lonjakan harga energi secara global. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak tercatat naik lebih dari 27 persen.
Mengutip dari CNN International, kenaikan ini turut berdampak pada harga bahan bakar di Amerika Serikat, yang kini menyentuh rata-rata 4,23 dolar per gallon, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Menurut analis energi, situasi tersebut membuat harga minyak hampir tidak memiliki pilihan selain terus naik, setidaknya hingga ada kepastian pembukaan kembali jalur distribusi utama tersebut.
Baca juga: Trump Klaim Sumur Minyak Iran Bakal Meledak, Ghalibaf Beri Sindiran: Sudah 3 Hari Berlalu
Krisis Energi Tekan Ekonomi Dunia
Lebih lanjut gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz turut memicu efek domino di berbagai lini kehidupan ekonomi.
Kenaikan harga minyak mentah secara langsung mendorong biaya produksi di berbagai industri, mulai dari manufaktur hingga distribusi. Akibatnya, harga barang kebutuhan sehari-hari ikut melonjak, mempercepat laju inflasi di banyak negara.
Tekanan inflasi yang tinggi kemudian berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Rumah tangga harus mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk kebutuhan dasar seperti bahan bakar dan pangan, sehingga konsumsi terhadap barang lain ikut menurun.
Jika kondisi ini terus berlanjut, para ekonom memperingatkan adanya potensi perlambatan ekonomi global yang bisa berujung pada resesi.
Baca tanpa iklan