Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Trump Kembali Tolak Proposal Damai Terbaru yang Ditawarkan Iran

Proposal formal baru ini kabarnya telah diserahkan kepada Amerika Serikat pada Kamis (30/4/2026) malam melalui Pakistan

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Bobby W
Editor: Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
  • Presiden AS Donald Trump menolak tawaran dari Iran yang mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade AS dengan syarat menunda perundingan program nuklir Teheran
  • AS bersikeras tidak akan menghentikan perang tanpa jaminan mutlak bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir
  • Sementara itu, Iran ingin menunda pembahasan nuklir ke tahap akhir demi memfasilitasi kesepakatan awal
  • Kebuntuan diplomatik memicu militer Iran memprediksi pertempuran lanjutan mungkin terjadi

 

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah proposal damai terbaru yang ditawarkan oleh Iran kembali ditolak oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Pernyataan ini disampaikan oleh seorang pejabat senior Iran pada Sabtu (2/5/2026).

Adapun poin yang menjadi sorotan dalam tawaran tersebut adalah pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan pengakhiran blokade AS terhadap Iran.

Sebagai imbalannya, pembicaraan mengenai program nuklir Teheran akan ditunda untuk tahap selanjutnya. 

Perundingan Masih Berlarut-larut

IRAN HARUS WASPADA - Delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf dan didampingi oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, tiba di Ibu Kota Pakistan, Islamabad pada Jumat (10/4/2026) malam.
IRAN HARUS WASPADA - Delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf dan didampingi oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, tiba di Ibu Kota Pakistan, Islamabad pada Jumat (10/4/2026) malam. (YouTube Associated Press)

Empat pekan sejak Amerika Serikat dan Israel menangguhkan kampanye pengeboman terhadap Iran, belum ada kesepakatan yang dicapai untuk mengakhiri perang yang telah memicu gangguan terbesar dalam sejarah pasokan energi global ini.

Selama lebih dari dua bulan terakhir, Iran memblokir hampir seluruh aktivitas pelayaran dari kawasan Teluk, kecuali armada milik mereka sendiri.

Rekomendasi Untuk Anda

Sebagai langkah balasan, AS memberlakukan blokade serupa terhadap kapal-kapal yang berasal dari pelabuhan Iran pada bulan lalu.

Sebelumnya, Trump juga telah menyatakan bahwa dirinya tidak puas dengan proposal terbaru Iran tersebut, tanpa merinci elemen mana saja yang ia maksud.

Baca juga: Resmi! AS Bakal Tarik 5.000 Pasukannya dari Jerman Buntut Perseteruan Trump-Merz

"Mereka meminta hal-hal yang tidak dapat saya setujui," ungkapnya kepada awak media di Gedung Putih pada Jumat waktu setempat (1/5/2026), 

Washington sendiri telah berulang kali menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menghentikan perang tanpa adanya kesepakatan yang menggaransi bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. 

Hal ini merupakan tujuan utama yang digaungkan Trump saat meluncurkan serangannya pada Februari lalu di tengah berlangsungnya perundingan nuklir.

Di sisi lain, Iran bersikukuh bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai.

Negosiasi Alot Soal Nuklir

Berbicara kepada NBC News dengan syarat anonim saat membahas diplomasi rahasia ini, pejabat senior Iran tersebut mengatakan bahwa Teheran menilai proposal terbaru mereka sebagai langkah signifikan demi memfasilitasi tercapainya kesepakatan.

Berdasarkan draf proposal tersebut, perang akan diakhiri dengan jaminan bahwa Israel dan Amerika Serikat tidak akan kembali melancarkan serangan.

PERANG LANJUTAN - Tangkap layar bendera Iran-Amerika-Israel. Gencatan senjata dua minggu dalam perang Iran melawan AS-Israel berada di ambang keruntuhan di mana kedua kubu belum mencapai kata sepakat soal tuntutan masing-masing.
PERANG LANJUTAN - Tangkap layar bendera Iran-Amerika-Israel. Gencatan senjata dua minggu dalam perang Iran melawan AS-Israel berada di ambang keruntuhan di mana kedua kubu belum mencapai kata sepakat soal tuntutan masing-masing. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

Setelahnya, Iran akan membuka Selat Hormuz, yang diikuti dengan pencabutan blokade oleh Amerika Serikat.

Pembicaraan di masa mendatang baru akan berfokus pada pembatasan program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi.

Dalam hal ini, Iran menuntut agar Washington mengakui haknya untuk memperkaya uranium demi tujuan damai, bahkan jika mereka sepakat untuk menangguhkannya.

"Di bawah kerangka ini, negosiasi mengenai masalah nuklir yang lebih rumit telah dipindahkan ke tahap akhir untuk menciptakan suasana yang lebih kondusif," papar pejabat tersebut.

Proposal formal baru ini kabarnya telah diserahkan kepada Amerika Serikat pada Kamis (30/4/2026) malam melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator.

Konflik bersenjata yang diprakarsai oleh AS dan Israel pada akhir Februari tersebut sempat dihentikan sementara sejak Rabu (8/4/2026).

Selepas jeda serangan, kedua belah pihak juga sempat menggelar perundingan damai yang berujung buntu di Pakistan.

Ketegangan Masih Terasa Pekat.

Seorang perwira militer senior Iran pada Sabtu (2/5/2026) memprediksi bahwa pertempuran lanjutan antara AS dan Iran mungkin terjadi.

Pernyataan ini dilontarkan hanya beberapa jam setelah Trump menolak proposal negosiasi dari Teheran.

Sementara itu, Ketua Mahkamah Agung Iran Gholamhossein Mohseni Ejei pada Jumat (1/5/2026) menegaskan bahwa negaranya tidak pernah menghindar dari negosiasi.

Ejei juga menambahkan bahwa Teheran tidak akan menerima "pemaksaan" syarat perdamaian.

Baca juga: Perang Iran Hari ke-64: 61 Persen Warga AS Tolak Perang Iran, Trump Justru Makin Menekan Teheran

Gedung Putih sejauh ini masih enggan memberikan rincian terkait proposal tersebut.

Kendati demikian, utusan AS Steve Witkoff dilaporkan telah mengajukan sejumlah amendemen yang memaksa program nuklir Teheran kembali ke meja perundingan.

Perubahan tersebut menuntut agar Iran tidak memindahkan uranium yang telah diperkaya dari situs-situs yang terdampak bom, serta melarang kelanjutan aktivitas di sana selama perundingan berlangsung.

Kabar mencuatnya proposal Iran ini sempat menekan harga minyak dunia turun hingga nyaris lima persen.

EMBARGO EKSPOR - Tangkap layar Khbenr, Jumat (1/5/2026) yang menunjukkan gambar ilustrasi produk minyak Iran. Amerika Serikat menerapkan embargo bagi ekspor minyak Iran terkait konflik yang dipicu permasalahan pengayaan nuklir negara tersebut.
EMBARGO EKSPOR - Tangkap layar Khbenr, Jumat (1/5/2026) yang menunjukkan gambar ilustrasi produk minyak Iran. Amerika Serikat menerapkan embargo bagi ekspor minyak Iran terkait konflik yang dipicu permasalahan pengayaan nuklir negara tersebut. (Tribunnews.com/Tangkap Layar/Khaberni)

 Meski begitu, harganya masih bertengger sekitar 50 persen di atas level sebelum perang akibat penutupan Selat Hormuz yang masih berlanjut hingga saat ini.

Di tengah kebuntuan diplomatik ini, asa masyarakat sipil kian menipis.

Amir, seorang warga Teheran, menggambarkan situasi pelik ini dengan lirih.

Baginya, situasi saat ini terasa seperti terjebak di "api penyucian" dan ia tak lagi menaruh banyak harapan pada proposal tersebut.

"Ini semua hanya membuang-buang waktu," tegasnya, sembari memprediksi bahwa Amerika Serikat dan Israel akan menyerang Iran kembali.

(Tribunnews.com/Bobby)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas