Donald Trump Umumkan AS Akan Mengawal Kapal-Kapal di Selat Hormuz
Trump umumkan AS kawal kapal di Selat Hormuz di tengah konflik Iran, soroti dampak global dan ketegangan isu nuklir
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan mengawal kapal di Selat Hormuz mulai Senin.
- Langkah ini diambil di tengah konflik dengan Iran dan minimnya harapan kesepakatan damai.
- Kebijakan ini juga menyoroti kembali ketegangan lama terkait isu nuklir Iran
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz mulai Senin waktu setempat. Kebijakan ini diambil di tengah ketegangan dengan Iran dan minimnya optimisme terhadap proposal damai terbaru dari Teheran.
Trump menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan respons atas permintaan sejumlah negara yang terdampak oleh terganggunya jalur pelayaran di kawasan tersebut. Ia menegaskan bahwa operasi ini bertujuan membuka kembali akses perdagangan global yang terhambat akibat konflik.
“Untuk kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal mereka keluar dengan aman dari jalur perairan yang terbatas ini, sehingga mereka dapat kembali menjalankan aktivitasnya,” tulis Trump melalui platform Truth Social.
Operasi pengawalan tersebut akan diberi nama “Project Freedom”. Trump menyebut keputusan ini telah dikomunikasikan kepada negara-negara yang terdampak.
Ia juga menegaskan bahwa langkah tersebut bersifat kemanusiaan dan tidak ditujukan untuk memperkeruh situasi.
“Pergerakan kapal ini semata-mata untuk membantu individu, perusahaan, dan negara yang tidak bersalah—mereka adalah korban keadaan. Ini adalah langkah kemanusiaan dari Amerika Serikat, negara-negara Timur Tengah, khususnya Iran,” ujarnya.
Meski demikian, Trump memperingatkan bahwa jika upaya pengawalan tersebut diganggu, maka akan direspons secara tegas. Ia bahkan membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer jika situasi memburuk.
Pengumuman ini muncul setelah insiden serangan terhadap sebuah kapal kargo di dekat Selat Hormuz oleh sejumlah kapal kecil pada Minggu pagi, sebagaimana dilaporkan militer Inggris.
Baca juga: Trump Tolak Proposal Damai Iran, Negosiasi Akhiri Konflik Timur Tengah Terancam Mandek
Di tengah situasi tersebut, gencatan senjata antara Washington dan Teheran masih berlangsung, meski dinilai rapuh.
Trump sebelumnya mengaku sedang meninjau proposal damai dari Iran, namun memberikan sinyal kecil bahwa AS kemungkinan tidak akan menerima tawaran tersebut.
Sejak konflik memanas, Iran diketahui membatasi akses Selat Hormuz bagi hampir seluruh kapal asing, sementara AS juga memberlakukan blokade sejak 13 April. Kondisi ini berdampak besar terhadap arus distribusi minyak dunia dan stabilitas ekonomi global.
Hingga kini, pembicaraan diplomatik masih berlangsung, namun belum ada kepastian terkait bentuk kesepakatan damai jangka panjang antara kedua negara.
Mengapa AS Terus Soroti Nuklir Iran? Ini Latar Belakang Sejarah
Seperti dilansir CNN, Isu nuklir Iran terus menjadi sorotan utama Amerika Serikat sejak puluhan tahun terakhir. Pertanyaan pun muncul, mengapa Washington kerap meributkan program nuklir Iran, sementara negara lain yang memiliki senjata nuklir tidak mendapatkan tekanan serupa?
Ketegangan ini berakar dari perubahan hubungan kedua negara pasca Revolusi Iran 1979. Sebelum revolusi, AS justru berperan besar dalam pengembangan program nuklir Iran melalui program “Atoms for Peace” yang diinisiasi oleh Presiden Dwight Eisenhower pada 1957.
Melalui kerja sama tersebut, AS memasok reaktor riset dan bahan baku uranium ke Teheran. Bahkan, Iran sempat merencanakan pembangunan lebih dari 20 reaktor nuklir untuk kebutuhan energi. Namun, setelah jatuhnya pemerintahan Shah Reza Pahlavi, hubungan kedua negara memburuk drastis.
Baca tanpa iklan