Analisis The Hill: Mengapa AS Perangi Iran Tapi Membiarkan Korea Utara dan Nuklirnya?
Mengapa Iran ditekan keras agar tidak mengembangkan senjata nuklir—bahkan hingga memicu konflik militer—sementara Korea Utara justru dibiarkan AS?
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Analisis The Hill: Mengapa AS Perangi Iran Tapi Berdamai dengan Korea Utara?
Ringkasan Berita:
- Kolumnis The Hill mempertanyakan inkonsistensi kebijakan AS yang menekan Iran terkait nuklir, tetapi membiarkan Korea Utara mempertahankan senjatanya.
- Kritik muncul di tengah konflik AS-Iran yang terus memanas, dengan alasan nuklir dinilai tidak sepenuhnya konsisten.
- Perbandingan dengan Korea Utara menunjukkan pendekatan berbeda: diplomasi untuk Pyongyang, tekanan militer untuk Teheran.
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, kritik terhadap kebijakan luar negeri Washington mulai bermunculan, termasuk dari dalam negeri AS sendiri.
Seorang kolumnis The Hill, Harlan Ullman, menyoroti apa yang ia sebut sebagai kontradiksi mendasar dalam pendekatan Amerika terhadap isu nuklir global.
The Hill, media digital yang berbasis di Washington, dikenal sebagai rujukan bagi Gedung Putih dan anggota Kongres AS.
Baca juga: Warga AS Pendukung Perang Iran Cuma 32 Persen, Trump: Poling Palsu!
Dalam artikelnya, Ullman mempertanyakan mengapa Iran ditekan keras agar tidak mengembangkan senjata nuklir—bahkan hingga memicu konflik militer—sementara Korea Utara justru dibiarkan mempertahankan dan mengembangkan arsenal nuklirnya.
Pertanyaan ini menjadi relevan dalam konteks konflik terbaru di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz, di mana ketegangan antara AS dan Iran terus meningkat.
Washington selama ini membenarkan tekanan terhadap Teheran dengan alasan mencegah pengembangan senjata nuklir.
Namun, Ullman menilai alasan tersebut tidak sepenuhnya konsisten.
Ia menyoroti paradoks dalam narasi resmi AS.
Di satu sisi, operasi militer terhadap Iran diklaim telah melemahkan atau bahkan menghancurkan kemampuan nuklir negara tersebut.
Namun di sisi lain, ancaman Iran tetap dijadikan dasar untuk melanjutkan tekanan militer, menciptakan celah antara klaim keberhasilan dan justifikasi konflik.
Lebih jauh, Ullman menilai bahwa tujuan konflik terhadap Iran tidak hanya terbatas pada isu nuklir, tetapi juga mencakup upaya perubahan rezim dan pelemahan kekuatan militer Teheran.
Meski demikian, hasil dari strategi tersebut dinilai masih belum jelas, terutama di tengah eskalasi yang terus terjadi di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
Sebagai perbandingan, Ullman mengingatkan pada krisis Korea Utara tahun 2017, ketika dunia berada di ambang konflik besar akibat uji coba nuklir dan rudal balistik Pyongyang.
Baca tanpa iklan