Analisis The Hill: Mengapa AS Perangi Iran Tapi Membiarkan Korea Utara dan Nuklirnya?
Mengapa Iran ditekan keras agar tidak mengembangkan senjata nuklir—bahkan hingga memicu konflik militer—sementara Korea Utara justru dibiarkan AS?
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Saat itu, retorika keras antara Presiden Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sempat memicu kekhawatiran global akan perang nuklir.
Namun, alih-alih berujung konflik terbuka, situasi justru berbalik ke jalur diplomasi.
Kedua pemimpin terlibat dalam pertukaran komunikasi hingga menggelar pertemuan puncak, yang pada akhirnya meredakan ketegangan tanpa perang.
Dari sudut pandang ini, Ullman melihat adanya inkonsistensi: Korea Utara yang telah memiliki senjata nuklir dan kemampuan menyerang justru diperlakukan melalui diplomasi, sementara Iran yang disebut belum memiliki senjata tersebut menghadapi tekanan militer.
“Diplomasi di satu sisi dan perang di sisi lain,” menjadi gambaran pendekatan berbeda yang diambil Washington, yang kemudian memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa Iran dianggap lebih berbahaya dibanding Korea Utara?
Ullman juga menempatkan perbandingan ini dalam konteks sejarah.
Amerika Serikat pernah terlibat perang besar dengan Korea Utara pada 1950-an yang secara teknis belum berakhir hingga kini.
Sementara dengan Iran, meskipun ketegangan berlangsung lama, konflik langsung tidak pernah mencapai skala yang sama.
Menurutnya, perbedaan pendekatan ini menunjukkan kemungkinan adanya faktor lain di luar penilaian ancaman objektif, seperti pertimbangan politik dan strategi global yang berubah-ubah.
Meski tidak memberikan jawaban pasti, Ullman menekankan pentingnya diskusi terbuka mengenai arah kebijakan luar negeri AS, terutama di tengah konflik yang terus berkembang dengan Iran dan meningkatnya risiko eskalasi di kawasan Timur Tengah.
Baca tanpa iklan