20.000 Pelaut Terdampar di Selat Hormuz, Hidup Berhari-hari di Atas Kapal
PBB mencatat 20.000 pelaut yang terdampar terjebak di atas kapal selama berhari-hari di Selat Hormuz.
Penulis:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Sekitar 20.000 pelaut terdampar di Teluk Persia setelah penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran dengan AS-Israel.
- Mereka terjebak berhari-hari di kapal dengan ancaman kekurangan makanan, udara, serta risiko serangan drone dan ranjau laut.
- PBB menyebut situasi ini krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi, sementara banyak awak kapal juga mengalami tekanan, intimidasi, bahkan gaji belum dibayar selama berbulan-bulan.
TRIBUNNEWS.COM, IRAN - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memperingatkan krisis 'yang belum pernah terjadi sebelumnya' sedang terjadi di Teluk Persia, termasuk di Selat Hormuz.
Krisis itu melanda puluhan ribuan pelaut yang terdampar karena kapal mereka yang tak bisa melewati blode Selat Hormuz.
PBB mencatat 20.000 pelaut yang terdampar terjebak di atas kapal selama berhari-hari sejak selat penting untuk transportasi minyak dunia itu ditutup Iran di awal-awal perang dengan AS-Israel.
Dikutip dari CNN, Rabu (6/5/2026), para pekerja maritim itu banyak diantaranya berasal dari negara-negara miskin dan berkembang.
Selain ancaman kekurangan bahan makanan, mereka juga berada di jalur perang antara Iran Vs AS-Israel yang secara otomatis mengancam nyawa mereka. Drone dan ranjau laut adalah ancaman nyata bagi mereka.
“Ini adalah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Damien Chevallier, Direktur Divisi Keselamatan Maritim di Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO).
“Kami memiliki sekitar 20.000 pelaut di Teluk selama hampir delapan minggu. Ini adalah krisis kemanusiaan. Kami belum pernah menghadapi situasi seperti ini.”
Peringatan tersebut mengungkap betapa seriusnya situasi yang dihadapi para awak kapal.
Sejak perang dimulai 28 Februari 2026, Iran berupaya memberlakukan aturan navigasi baru di Teluk Persia, yang memungkinkan kapal-kapal dari negara-negara yang disebut "sahabat" untuk melewati selat tersebut dengan imbalan biaya.
Sebagai tanggapan, pemerintahan Trump telah mengambil langkah untuk memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan kapal-kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.
“Sekitar 800 hingga 1.000 kapal ingin berlayar melalui Selat Hormuz untuk keluar dari daerah tersebut,” kata Chevallier.
Pengakuan awak kapal
Salah satu contoh kasus tersebut adalah Auroura, sebuah kapal tanker minyak yang terdampar di Teluk Persia tak bisa melewati Teluk Hormuz.
Para awak kapal mengatakan kepada CNN dalam sebuah wawancara bulan lalu bahwa mereka telah terdampar di atas kapal selama berminggu-minggu setelah perang pecah.
Mereka mengatakan bahwa pemilik kapal menekan mereka untuk berlayar ke Iran untuk mengambil minyak meskipun risikonya semakin meningkat.
Para awak kapal, yang semuanya warga negara India, menggambarkan kondisi yang memburuk di atas kapal, termasuk kekurangan makanan dan air bersih.
Baca tanpa iklan