Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kata Pakar Soal Hantavirus vs Covid-19: Satu Lebih Mematikan, Satu Lebih Menular

Hantavirus dinilai lebih mematikan per kasus, sedangkan COVID-19 lebih mudah menular antarmanusia.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Endra Kurniawan

Tingkat keparahannya sering bergantung pada usia, penyakit penyerta, dan kondisi sistem imun pasien.

Virus Mana yang Lebih Mematikan?

Para ahli menilai Hantavirus umumnya lebih mematikan jika dilihat per kasus.

Tingkat kematian Sindrom Paru Hantavirus dapat mencapai 30–40 persen sehingga tergolong kondisi medis yang sangat serius.

Di sisi lain, COVID-19 memiliki tingkat kematian keseluruhan yang lebih rendah, yakni sekitar 0,5 hingga 2 persen.

Meski demikian, COVID-19 telah menyebabkan jauh lebih banyak kematian secara global karena penyebarannya sangat cepat dan memiliki potensi pandemi.

“Coronavirus memiliki dampak global yang jauh lebih besar karena tingkat penularannya tinggi, sementara hantavirus tetap jarang tetapi parah,” ujar Dr. AK Shukla, Konsultan Dokter Senior di Rumah Sakit Kailash.

Potensi Pandemi

Salah satu perbedaan terbesar kedua virus terletak pada potensi pandeminya.

Rekomendasi Untuk Anda

COVID-19 menunjukkan bagaimana virus dapat menyebar ke seluruh dunia dengan cepat melalui penularan antarmanusia, mobilitas global, dan keberadaan kasus tanpa gejala.

Sebaliknya, penyebaran Hantavirus lebih terbatas karena bergantung pada kondisi lingkungan tertentu yang melibatkan hewan pengerat sebagai inang.

Hal itu membuat kemungkinan wabah berskala luas menjadi lebih kecil.

Bagaimana Hantavirus Bisa Menyebar di Kapal Pesiar MV Hondius

Dugaan wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana penyakit langka tersebut dapat menyebar di antara penumpang dan awak kapal.

Sekitar 150 orang dilaporkan masih berada di kapal setelah tiga penumpang meninggal dunia.

Meski umumnya menular melalui kontak dengan kotoran tikus yang terkontaminasi, pejabat kesehatan menyebut penularan antarmanusia tetap mungkin terjadi, meskipun sangat terbatas.

Hal itu kemungkinan menjadi salah satu penjelasan dalam kasus ini, menurut Maria Van Kerkhove, Direktur Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi serta Pandemi World Health Organization.

“Kami percaya mungkin ada penularan antarmanusia di antara kontak sangat dekat, seperti suami dan istri atau orang-orang yang berbagi kabin,” kata Van Kerkhove dalam konferensi pers Selasa (5/5/2026), dikutip CBS News.

Halaman 2/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas