Trump Klaim Perang Iran Segera Berakhir, Teheran Masih Kaji Proposal Damai AS
Presiden AS Donald Trump optimistis perang Iran segera berakhir, tetapi Teheran masih meninjau proposal damai AS.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Whiesa Daniswara
Salah satu isu terbesar dalam negosiasi adalah kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Al Jazeera melaporkan, Iran menegaskan bahwa kendali terhadap Selat Hormuz merupakan garis merah yang tidak bisa dinegosiasikan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengumumkan aturan baru bagi kapal-kapal yang melintas di selat tersebut, termasuk kewajiban pembayaran menggunakan mata uang Iran.
Di sisi lain, Amerika Serikat menilai Iran tidak boleh menentukan siapa yang dapat menggunakan jalur laut internasional tersebut.
BBC melaporkan, Trump sebelumnya sempat meluncurkan operasi militer “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal keluar dari Teluk Persia, tetapi operasi itu kemudian ditunda setelah muncul sinyal kemajuan diplomatik.
Komando Pusat AS (CENTCOM) juga mengklaim telah melumpuhkan kapal tanker berbendera Iran yang dianggap melanggar blokade di Teluk Oman.
Netanyahu Desak Uranium Iran Dipindahkan
Baca juga: Trump Klaim Kesepakatan dengan Iran di Depan Mata, Ancam Serangan Jika Negosiasi Gagal
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dirinya memiliki “koordinasi penuh” dengan Trump terkait Iran.
Reuters melaporkan, Netanyahu menegaskan Israel dan AS sama-sama menginginkan seluruh uranium yang diperkaya dipindahkan dari Iran dan kemampuan pengayaan uranium Teheran dibongkar total.
Namun Iran tetap menolak menyerahkan sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya tinggi.
Teheran menegaskan program nuklirnya bertujuan damai dan bukan untuk pengembangan senjata nuklir.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan menyatakan negaranya terus berupaya mengubah gencatan senjata sementara menjadi penghentian perang permanen.
Meski peluang diplomasi mulai terlihat, ancaman konflik baru masih membayangi kawasan Timur Tengah, terutama jika negosiasi damai kembali menemui jalan buntu.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan