Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Di Balik Panel Surya: Eropa Khawatir Ketergantungan pada China Picu Krisis Listrik

Komisi Eropa melarang penggunaan dana publik Uni Eropa untuk membeli inverter surya China karena khawatir perangkat tersebut dapat dieksploitasi

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Tiara Shelavie
zoom-in Di Balik Panel Surya: Eropa Khawatir Ketergantungan pada China Picu Krisis Listrik
Pexels
PANEL SURYA - Foto ilustrasi seorang teknisi panel surya, diunduh dari Pexels pada 12 September 2025. Komisi Eropa melarang penggunaan dana publik Uni Eropa untuk membeli inverter surya China karena khawatir perangkat tersebut dapat dieksploitasi 

Ringkasan Berita:
  • Komisi Eropa melarang penggunaan dana publik Uni Eropa untuk membeli inverter surya buatan China karena khawatir perangkat tersebut dapat dieksploitasi untuk memicu pemadaman listrik besar-besaran.
  • Kekhawatiran ini diperkuat oleh temuan perangkat komunikasi tak dikenal di dalam inverter China dan dominasi produsen China yang menguasai 61 persen pasar inverter Eropa.
  • Produsen inverter Eropa diyakini mampu mengisi kekosongan pasar meskipun harganya sedikit lebih mahal dibandingkan produk China.

TRIBUNNEWS.COM - Komisi Eropa bergerak memblokir pendanaan Uni Eropa untuk teknologi surya buatan China atas kekhawatiran bahwa hal tersebut dapat menimbulkan ancaman keamanan terhadap jaringan listrik Eropa, bahkan memicu pemadaman listrik besar-besaran.

Mengutip DW, keputusan yang dikonfirmasi pada 4 Mei ini mencerminkan kekhawatiran yang semakin besar di Brussels bahwa ketergantungan Eropa pada teknologi hijau China membuat blok tersebut rentan terhadap ancaman keamanan.

Larangan pendanaan dari Komisi Eropa difokuskan pada inverter surya — perangkat yang sering disebut sebagai "otak" dari sistem tenaga surya. Inverter ini mengubah energi surya menjadi listrik yang dapat digunakan. Perangkat tersebut terhubung ke internet dan seringkali dapat diakses dari jarak jauh untuk perawatan dan pembaruan perangkat lunak.

Skenario Terburuk: Pemadaman Listrik di Seluruh Eropa?

"Semua perusahaan inverter memiliki semacam kill switch," kata Christoph Podewils, sekretaris jenderal Dewan Manufaktur Surya Eropa, kepada DW.

Kill switch dan koneksi jarak jauh lainnya biasanya digunakan untuk keselamatan atau stabilisasi jaringan. Namun para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa dalam skenario terburuk, peretas atau aktor negara yang bermusuhan dapat mengeksploitasi koneksi jarak jauh tersebut untuk mengganggu pasokan listrik.

Rekomendasi Untuk Anda

"Skenario terburuknya adalah pemadaman listrik besar-besaran di seluruh Eropa," kata pakar keamanan siber Swantje Westphal kepada DW.

Pada tahun 2024, 61?ri seluruh inverter yang diimpor ke Eropa berasal dari China. Huawei dan Sungrow adalah dua produsen inverter yang mendominasi pasar Eropa bahkan global. Sejumlah kecil produsen China telah memasok perangkat keras untuk lebih dari 220 gigawatt kapasitas surya terpasang di Eropa.

"Sebagai gambaran, mengendalikan sekitar 10 gigawatt saja sudah cukup untuk memicu gangguan besar pada jaringan listrik Eropa," kata Podewils.

Baca juga: Dukung Target Bauran Energi Nasional, Ishizuka Maspion Gandeng Suryanesia Instalasi Panel Surya

Perangkat Komunikasi Tak Dikenal dalam Teknologi Surya

Belum ada kasus yang diketahui di mana inverter buatan China digunakan untuk mematikan bagian jaringan listrik Eropa. Namun kekhawatiran semakin meningkat setelah Reuters melaporkan pada tahun 2025 bahwa pejabat energi Amerika Serikat menemukan perangkat komunikasi tak dikenal di dalam beberapa inverter buatan China.

"Ancamannya nyata," kata Westphal. "Ini bukan hipotesis yang dibuat-buat."

Dominasi Teknologi Hijau China di Eropa

Perdebatan soal inverter ini muncul di saat Eropa tengah mengevaluasi kembali ketergantungannya yang lebih luas pada impor teknologi bersih dari China. Menurut lembaga riset Loom, China menyumbang 98% panel surya dan 88?terai lithium-ion yang diimpor ke Eropa.

Brussels semakin mengambil sikap lebih tegas terhadap impor China yang dianggap sebagai risiko keamanan. Pada Maret lalu, Komisi Eropa mempresentasikan Undang-Undang Akselerator Industri yang bertujuan mengarahkan lebih banyak pendanaan ke teknologi hijau buatan Eropa. Komisi juga merevisi Undang-Undang Keamanan Siber yang akan memberi Brussels wewenang lebih besar untuk membatasi perusahaan China dari infrastruktur penting.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas