AS-Iran Saling Serang di Hormuz, Harga Minyak Tembus 101 Dolar AS per Barel, Perang Kembali Memanas?
Harga minyak melonjak usai AS dan Iran saling serang di Selat Hormuz, pasar khawatir perang kembali memanas.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Harga minyak dunia kembali melonjak setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan di Selat Hormuz.
- Harga minyak Brent sempat menembus US$103 per barel di tengah kekhawatiran gencatan senjata kedua negara berada di ambang kehancuran.
- Pasar memperkirakan konflik telah mengurangi produksi global hingga 14,5 juta barel minyak per hari.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan baru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz kembali mengguncang pasar energi dunia.
Harga minyak mentah melonjak tajam setelah kedua negara saling melancarkan serangan di jalur laut paling penting bagi perdagangan energi global tersebut.
Al Jazeera melaporkan harga minyak mentah Brent sempat naik hingga 7,5 persen dalam perdagangan Kamis sebelum akhirnya sedikit mereda saat pasar Asia dibuka pada Jumat pagi.
Harga Brent tercatat berada di level 101,12 dolar AS per barel setelah sebelumnya menyentuh puncak harian di angka 103,70 dolar AS .
Sementara itu, CNBC melaporkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga ikut naik menjadi sekitar 95,64 dolar AS per barel.
Lonjakan harga terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran bisa runtuh sewaktu-waktu.
Bentrokan Baru Pecah di Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menjadi penghubung utama pengiriman minyak dan gas dunia.
Lebih dari seperlima pasokan minyak serta gas alam global biasanya melewati kawasan tersebut setiap hari.
Baca juga: Sistem Pertahanan Udara UEA Respons Ancaman Rudal, AS dan Iran Sempat Baku Tembak di Selat Hormuz
Menurut laporan Al Jazeera, bentrokan terbaru pecah setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menuduh Iran menyerang tiga kapal perusak rudal berpemandu milik Angkatan Laut AS menggunakan rudal, drone, dan kapal kecil.
Militer AS kemudian melancarkan serangan balasan yang mereka sebut sebagai tindakan pertahanan diri.
Di sisi lain, Iran justru menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran menyebut pasukan AS menyerang kapal tanker minyak Iran serta beberapa kapal lain di sekitar Selat Hormuz.
Iran juga menuduh AS menargetkan wilayah sipil, termasuk kawasan Pulau Qeshm.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencoba meredam kekhawatiran pasar dengan mengatakan bahwa gencatan senjata masih tetap berlaku.
Namun, pernyataannya justru disertai ancaman baru terhadap Teheran.
“Pembicaraan berjalan sangat baik, tetapi mereka harus memahami bahwa jika perjanjian itu tidak ditandatangani, mereka akan mengalami banyak kesulitan,” kata Trump kepada wartawan.
Trump bahkan menyebut serangan terbaru terhadap Iran hanya sebagai “sentuhan kasih sayang”.
Pasar Khawatir Jalur Energi Dunia Lumpuh
Ketegangan di Selat Hormuz langsung memicu kekhawatiran besar di pasar global.
BBC melaporkan aktivitas pengiriman di selat tersebut hampir lumpuh sejak akhir Februari akibat ancaman serangan terhadap kapal tanker minyak.
Para pedagang kini memandang gencatan senjata AS-Iran sebagai sesuatu yang sangat rapuh.
Profesor madya Universitas James Cook Australia, Jiajia Yang, mengatakan pasar khawatir aksi militer lebih lanjut akan mengancam distribusi energi global.
“Ketakutan terbesar pasar adalah terganggunya pengiriman energi dunia melalui Selat Hormuz,” ujarnya seperti dikutip BBC.
Peneliti ekonomi Universitas Nasional Singapura, Huifeng Chang, mengatakan pasar bereaksi sangat sensitif karena investor melihat risiko konflik masih sangat tinggi.
Baca juga: AS Langgar Gencatan Senjata di Selat Hormuz, Iran Pukul Mundur Kapal AS ke Teluk Oman
Menurutnya, ketidakpastian terkait negosiasi damai membuat harga minyak menjadi sangat fluktuatif.
“Para pedagang melihat gencatan senjata ini sangat rapuh,” kata Chang.
Al Jazeera melaporkan harga minyak kini naik sekitar 40 persen dibandingkan sebelum perang dimulai.
Pasar memperkirakan konflik telah mengurangi produksi global hingga 14,5 juta barel minyak per hari.
Pasar Saham Asia Ikut Terguncang
Lonjakan harga minyak juga memicu tekanan besar di pasar saham Asia.
Al Jazeera melaporkan indeks Nikkei 225 Jepang, KOSPI Korea Selatan, dan Hang Seng Hong Kong sama-sama turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Jumat pagi.
Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 juga melemah sekitar 0,4 persen setelah sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi baru.
Investor khawatir konflik yang kembali memanas akan memperburuk inflasi global dan meningkatkan biaya energi di banyak negara.
Kondisi ini dikhawatirkan dapat memperlambat pemulihan ekonomi dunia yang masih rapuh pascapandemi dan krisis geopolitik beberapa tahun terakhir.
Selain itu, lonjakan harga energi juga berpotensi meningkatkan harga bahan bakar, biaya transportasi, hingga harga pangan di berbagai negara.
Negosiasi Damai Masih Berlangsung
Meski situasi memanas, Amerika Serikat dan Iran diketahui masih melanjutkan pembicaraan damai.
Baca juga: Iran Bikin Kapal Perusak AS Mundur dari Selat Hormuz, IRGC Lakukan Serangan Pakai Rudal dan Drone
BBC melaporkan Iran saat ini sedang meninjau proposal terbaru dari Washington terkait upaya mengakhiri perang.
Trump mengatakan dirinya optimistis kesepakatan masih bisa dicapai dalam waktu dekat.
“Saya yakin mereka lebih menginginkan kesepakatan itu daripada saya,” kata Trump.
Namun, di lapangan, situasi tetap penuh ketegangan.
Militer Iran mengklaim pasukannya telah memberikan “kerusakan signifikan” terhadap kapal-kapal militer AS.
Sebaliknya, militer Amerika Serikat membantah kapal mereka terkena serangan.
CENTCOM juga menegaskan pihaknya tidak ingin meningkatkan konflik lebih jauh.
Media pemerintah Iran kemudian melaporkan bahwa situasi di Selat Hormuz telah kembali “normal”.
Meski demikian, pasar global tampaknya belum sepenuhnya percaya bahwa kondisi benar-benar stabil.
Risiko Harga Minyak Tetap Tinggi
CNBC melaporkan sejumlah analis memperkirakan harga minyak masih akan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Bank investasi ANZ Research menilai risiko kegagalan kesepakatan damai AS-Iran akan membuat pasar energi terus bergejolak.
“Risiko kegagalan kesepakatan damai kemungkinan akan membuat pasar minyak tetap volatil,” tulis ANZ dalam laporannya.
Sementara itu, analis Citi memperkirakan pasar keuangan global memang akan perlahan stabil, tetapi proses menuju normalisasi diperkirakan tidak berjalan mulus.
Kekhawatiran utama investor saat ini tetap tertuju pada Selat Hormuz.
Jika konflik kembali meluas dan jalur tersebut benar-benar lumpuh, dunia berpotensi menghadapi krisis energi baru dengan dampak global yang sangat besar.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.