Xi Jinping ke Donald Trump: China dan AS Harus Jadi Mitra, Bukan Rival
Xi Jinping tegaskan hubungan China-AS harus jadi kemitraan, bukan persaingan, saat bertemu Donald Trump di Beijing.
Editor:
Glery Lazuardi
Kini, kondisi global telah berubah drastis. Pemerintahan Trump tengah terseret dalam konflik dengan Iran, salah satu mitra dekat China di Timur Tengah. Konflik itu memicu krisis energi global dan mengalihkan fokus militer Amerika Serikat dari kawasan Asia.
Sejumlah analis China bahkan mulai mempertanyakan kemampuan Washington dalam mempertahankan Taiwan jika konflik regional semakin meluas, terutama setelah persediaan amunisi AS disebut mengalami tekanan akibat perang.
Di sisi lain, Xi Jinping juga menghadapi tantangan besar di dalam negeri. Perlambatan ekonomi China, kenaikan harga energi, dan ancaman resesi global menjadi tekanan serius bagi negara dengan ekonomi berbasis ekspor tersebut.
Baca juga: Termasuk Elon Musk, Belasan Pengusaha Top AS Diboyong Trump ke China Bertemu Xi Jinping
Bahas Perdagangan hingga Taiwan
Dalam pertemuan nanti, kedua pemimpin diperkirakan akan membahas kerja sama ekonomi dan perdagangan. Pemerintah AS disebut mendorong agenda yang dikenal sebagai “Five B’s”, yakni pembelian pesawat Boeing, daging sapi, kedelai Amerika Serikat, serta pembentukan dewan investasi dan dewan perdagangan baru antara kedua negara.
Sementara itu, Beijing menitikberatkan pembahasan pada “Three T’s”, yaitu tarif, teknologi, dan Taiwan.
China diperkirakan akan meminta perpanjangan gencatan perang dagang serta pelonggaran pembatasan ekspor semikonduktor canggih yang dibutuhkan untuk memperkuat sektor industrinya.
Xi Jinping juga diprediksi mendesak Trump agar mengurangi dukungan AS terhadap Taiwan, wilayah yang diklaim China sebagai bagian dari negaranya.
Sebelumnya, Xi sempat menegaskan kepada Trump melalui sambungan telepon bahwa China “tidak akan pernah membiarkan Taiwan dipisahkan dari China.”
Iran dan AI Jadi Sorotan
Trump juga disebut akan meminta Beijing membantu membujuk Iran membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Selain itu, kedua negara akan membahas kerja sama pengelolaan risiko kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang kini menjadi salah satu isu strategis global.
Presiden AS itu juga diperkirakan mengangkat kasus aktivis demokrasi Hong Kong, Jimmy Lai, yang dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada Februari lalu atas tuduhan kolusi dan hasutan.
Isu lain yang masuk agenda pembicaraan mencakup pengembangan senjata nuklir China, keamanan Laut China Selatan, serta penyelundupan fentanyl ke Amerika Serikat.
Peluang Kesepakatan Besar Dinilai Kecil
Meski Trump kerap menyebut Xi Jinping sebagai “teman”, banyak pengamat menilai peluang tercapainya kesepakatan besar dalam KTT ini cukup kecil.
Analis hubungan internasional dari Fudan University, Zhao Minghao, mengatakan pertemuan tersebut kemungkinan hanya menghasilkan kesepakatan terbatas dan memperpanjang gencatan perang dagang yang sudah ada.
“Kita mungkin tidak bisa berharap ada terobosan besar yang sangat substansial dari pertemuan ini,” ujar Zhao.