Transfer Minyak Rahasia Dekat Malaysia Diduga Jadi Jalur Utama Ekspor Iran ke China
Perairan sekitar Malaysia dan Indonesia, kini bukan hanya jalur perdagangan strategis dunia, tetapi juga menjadi arena persaingan geopolitik
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Transfer Minyak Rahasia Dekat Malaysia Diduga Jadi Jalur Utama Ekspor Iran ke China
Ringkasan Berita:
- Kapal tanker terkait Iran diduga melakukan transfer minyak antarkapal di perairan dekat Malaysia untuk menghindari sanksi minyak Amerika Serikat.
- Aktivitas berlangsung di wilayah laut internasional dekat Johor yang dinilai memiliki celah pengawasan dan keterbatasan yurisdiksi.
- China disebut tetap menjadi pembeli utama minyak Iran, sementara Malaysia dan Indonesia kini mendapat sorotan terkait pengawasan aktivitas maritim tersebut.
TRIBUNNEWS.COM - Perairan di lepas pantai Johor, Malaysia, kini menjadi sorotan internasional setelah diduga digunakan sebagai pusat transfer minyak rahasia yang melibatkan kapal tanker terkait Iran.
Aktivitas tersebut disebut dilakukan untuk menghindari sanksi energi Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran.
Menurut laporan Associated Press (AP), operasi berlangsung di kawasan Eastern Outer Port Limits (EOPL) di Laut China Selatan, sekitar 70 kilometer dari Johor.
Baca juga: Amerika Siapkan “Operation Sledgehammer”, Sinyal Perang Iran Potensial Berlanjut
Wilayah itu berada di jalur pelayaran tersibuk dunia yang menghubungkan Timur Tengah dan Asia Timur.
Otoritas Maritim Malaysia atau Malaysian Maritime Enforcement Agency (MMEA) mengakui banyak transfer minyak antarkapal dilakukan di luar wilayah teritorial Malaysia dan di area dengan cakupan radar terbatas.
“Pemilihan lokasi seperti ini dimaksudkan untuk memanfaatkan celah yurisdiksi dan membatasi tindakan penegakan hukum langsung oleh otoritas lokal,” kata Direktur Jenderal MMEA Mohamad Rosli Abdullah kepada AP.
Kapal Bayangan Diduga Kirim Minyak Iran ke China
Aktivitas tersebut melibatkan apa yang dikenal sebagai “shadow fleet” atau armada bayangan, yakni kapal tanker tua yang beroperasi dengan sistem pelacakan dimatikan, identitas kapal diubah, serta struktur kepemilikan yang sulit dilacak.
Tujuannya adalah menyamarkan asal muatan minyak mentah yang sebagian besar diyakini dikirim ke China.
Pengamat industri energi menyebut sekitar 90 persen ekspor minyak Iran saat ini dibeli oleh China, meski Washington telah lama memberlakukan sanksi ketat terhadap sektor energi Iran.
Kelompok advokasi berbasis di Amerika Serikat, United Against Nuclear Iran (UANI), mengklaim terdapat 42 aktivitas transfer minyak terkait Iran di kawasan EOPL sejak 28 Februari 2026 berdasarkan pemantauan citra satelit.
Penasihat senior UANI, Charlie Brown, menuding lemahnya penegakan hukum Malaysia ikut memungkinkan praktik tersebut terus berlangsung.
“Karena kurangnya tindakan Malaysia, negara itu secara tidak langsung memfasilitasi model bisnis Iran, China, dan aktor armada gelap,” ujarnya.
Malaysia Bantah Tuduhan Lemah dalam Penegakan Hukum
Pemerintah Malaysia membantah tudingan tersebut. Otoritas setempat menegaskan seluruh pengawasan maritim dilakukan sesuai hukum domestik dan konvensi internasional.