Mengapa Trump dan Delegasi AS Masuk China Tanpa HP Pribadi?
Presiden AS Donald Trump dan delegasi AS memasuki China tanpa membawa ponsel pribadi mereka selama kunjungan di Beijing pada 14-15 Mei 2026.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Suci BangunDS
Mantan agen Secret Service, Bill Gage, mengatakan pengarahan keamanan digital selalu menjadi bagian penting sebelum kunjungan pejabat AS ke China.
Sementara itu, mantan kepala petugas informasi Gedung Putih, Teresa Payton, menyebut para pejabat diingatkan agar menganggap seluruh aktivitas mereka — baik percakapan langsung maupun komunikasi digital — dapat dipantau.
Langkah pengamanan ketat ini sempat menyulitkan pekerjaan diplomatik sehari-hari.
Komunikasi yang biasanya dilakukan cepat melalui aplikasi terenkripsi harus dialihkan ke jalur khusus atau bahkan dilakukan secara langsung.
Kunjungan Trump ke Beijing sendiri berlangsung selama tiga hari dan diisi pembicaraan penting bersama Presiden China Xi Jinping mengenai perang Iran, Taiwan, perdagangan, hingga teknologi.
Trump juga datang bersama delegasi besar yang mencakup pejabat pemerintahan dan pimpinan perusahaan raksasa AS seperti Apple, Boeing, Qualcomm, dan BlackRock.
Meski demikian, pemerintah China membantah tuduhan pengawasan ilegal tersebut. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Bingyu, menegaskan bahwa privasi pribadi dilindungi oleh hukum di China.
“Pemerintah China sangat mementingkan perlindungan data dan privasi,” ujarnya.
Kenapa China Dianggap Berisiko Secara Siber?
Hubungan Amerika Serikat dan China selama bertahun-tahun tidak hanya diwarnai persaingan ekonomi dan politik, tetapi juga ketegangan di dunia siber.
Pemerintah AS beberapa kali menuduh kelompok peretas yang diduga terkait China melakukan pencurian data, spionase industri, hingga upaya pengawasan digital terhadap perusahaan teknologi, lembaga pemerintah, dan pejabat asing.
Washington juga menilai, China memiliki kemampuan siber yang sangat maju sehingga perangkat elektronik yang dibawa ke negara tersebut dianggap berisiko diretas atau dipantau.
Dalam panduan resmi di laman U.S. State Department Travel Advisory for China, Departemen Luar Negeri AS menyebut bahwa “tidak ada ekspektasi privasi di jaringan seluler atau jaringan lainnya di China” dan menjelaskan bahwa banyak pelancong memilih membawa perangkat elektronik tanpa data sensitif saat berada di China.
Di sisi lain, pemerintah China membantah seluruh tuduhan tersebut. Beijing justru menuding Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang paling aktif melakukan pengawasan digital global melalui badan intelijen dan teknologi canggihnya.
Karena saling curiga itulah, pejabat AS sering menerapkan langkah keamanan ekstra saat berkunjung ke China, termasuk membatasi penggunaan perangkat pribadi dan komunikasi digital.
Negara Lain Juga Melakukan Hal Serupa
Langkah menggunakan “burner phone” atau ponsel sementara sebenarnya bukan hal baru dalam dunia diplomasi internasional dan keamanan negara.