WHO Bunyikan Alarm Krisis Kesehatan Mental Ukraina, Makin Parah Akibat Perang
Terkini, WHO alarm krisis mental Ukraina memburuk saat perang Rusia-Ukraina kembali memanas dan perdamaian makin jauh.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Ayu Miftakhul Husna
Serangan tersebut mulai menekan produksi minyak Rusia yang merupakan terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi.
Kondisi itu juga menambah tekanan terhadap anggaran federal Moskow.
WHO Alarm, Mental Warga Ukraina Kian Hancur
World Health Organization memperingatkan krisis kesehatan mental di Ukraina semakin memburuk akibat perang berkepanjangan.
WHO menyebut dampaknya bisa dirasakan hingga beberapa generasi mendatang.
Perwakilan WHO di Ukraina, Jarno Habicht, mengatakan 71 persen warga mengalami kecemasan, stres, dan sulit tidur.
Menurut WHO, perang yang terus berlangsung memicu tekanan psikologis berat bagi masyarakat.
Drone Peledak Diduga dari Ukraina Gegerkan Yunani
Penyelidik Yunani menduga drone militer bermuatan bahan peledak yang ditemukan di Pulau Lefkada mengalami kegagalan teknis hingga keluar jalur.
Reuters melaporkan drone itu ditemukan di pantai pada 7 Mei 2026.
Yunani menduga drone tersebut milik Ukraina, namun tuduhan itu dibantah Kyiv.
Baca juga: Ukraina Usulkan Gencatan Senjata Bandara dengan Rusia, Minta Eropa Turun Tangan
Penemuan drone tersebut memicu ketegangan diplomatik baru antara Athena dan Ukraina.
Rusia Hantam Terminal Gandum Ukraina
Serangan Rusia menghantam terminal gandum di sebuah pelabuhan Ukraina dan melukai tujuh orang.
Kementerian Pembangunan Ukraina mengatakan serangan tersebut juga merusak fasilitas pelabuhan.
Namun pihak Ukraina belum mengungkap lokasi pelabuhan yang diserang.
Serangan terbaru kembali memicu kekhawatiran terhadap rantai pasokan pangan dunia.
Warga Ukraina Diduga Jadi Mata-mata Rusia
Jaksa Jerman mengungkap seorang warga Ukraina ditangkap atas dugaan menjadi mata-mata Rusia.
Tersangka yang diidentifikasi sebagai Sergey N sebelumnya ditahan di Spanyol pada akhir Maret.
Ia kemudian diekstradisi ke Jerman pada Kamis waktu setempat.
Pihak berwenang menuding tersangka melakukan aktivitas spionase untuk kepentingan Rusia.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)