5 Populer Internasional: Viral Kursi Trump Tampak Lebih Pendek - AS dan Iran Saling Lempar Ancaman
Rangkuman berita populer internasional, di antaranya AS dan Iran saling melempar ancaman di tengah kebuntuan diplomasi.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Ayu Miftakhul Husna
Dilansir Guardian, kunjungan Putin ke Beijing dijadwalkan berlangsung pada Selasa (19/5/2026) dan Rabu (20/5/2026), hanya empat hari setelah Donald Trump meninggalkan China pekan lalu.
Xi mengatakan, kerja sama bilateral antara Rusia dan China terus diperdalam dan diperkuat.
Sebagai informasi, tahun ini menandai peringatan 30 tahun kemitraan strategis kedua negara, menurut media pemerintah China.
Selama kunjungan tersebut, Putin dan Xi Jinping akan membahas cara untuk semakin memperkuat kemitraan komprehensif dan kerja sama strategis antara kedua negara, lapor AFP, mengutip pernyataan Kremlin.
Putin dan Xi juga akan bertukar pandangan mengenai isu-isu internasional dan regional utama serta menandatangani deklarasi bersama pada akhir pembicaraan mereka, tambah laporan tersebut.
Sebagai bagian dari kunjungan itu, Putin juga dijadwalkan membahas kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan Perdana Menteri China, Li Qiang.
Pandangan Media China
Sebuah artikel yang diterbitkan media pemerintah China Global Times pada Senin (18/5/2026) menyebut, kunjungan presiden AS dan Rusia secara berurutan menunjukkan bahwa China semakin muncul sebagai pusat diplomasi global.
“Kunjungan yang berurutan ini telah memicu perhatian luas. Para analis mencatat bahwa sangat jarang di era pasca-Perang Dingin suatu negara menjamu pemimpin AS dan Rusia secara berturut-turut dalam satu minggu,” tulis Global Times.
3. AS dan Iran Saling Lempar Ancaman, Trump Beri Batas Waktu Diplomasi, Teheran: Hadapi Rudal Kami!
Genderang perang di Timur Tengah kembali terdengar, setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melempar ancaman.
Presiden AS, Donald Trump baru saja melayangkan ancaman paling agresifnya terhadap rezim Teheran.
Dalam wawancaranya dengan Axios, Trump menegaskan bahwa waktu bagi Iran untuk berkompromi sudah hampir habis.
Jika Iran tidak segera mengajukan proposal perdamaian yang lebih masuk akal, Washington tidak akan ragu untuk meluncurkan gelombang serangan militer yang jauh lebih destruktif.
"Waktu terus berjalan bagi Iran," ujar Trump.
"Jika mereka tidak datang membawa tawaran kesepakatan yang lebih baik, mereka akan dihantam dengan jauh lebih keras!" tegasnya.