Trump Tunda Serang Iran Sesuai Permintaan Qatar, Arab Saudi, dan UEA
Presiden AS Donald Trump menunda serangan ke Iran pada hari Selasa ini atas permintaan Qatar, UEA, dan Arab Saudi.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran setelah mendapat permintaan dari Qatar, Arab Saudi, dan UEA.
- Trump mengatakan penundaan dilakukan demi memberi ruang bagi jalur diplomasi dan negosiasi nuklir dengan Teheran.
- Meski begitu, AS tetap menyiagakan militer untuk kemungkinan serangan skala penuh jika pembicaraan gagal.
- Sementara itu, proposal terbaru Iran yang dimediasi Pakistan disebut AS belum memenuhi tuntutan Washington terkait uranium dan program nuklir Iran.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan menunda rencana serangan militer terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Selasa (19/5/2026).
Keputusan itu diambil setelah adanya permintaan langsung dari Emir Qatar, Putra Mahkota Arab Saudi, dan Presiden Uni Emirat Arab (UEA), di tengah upaya diplomatik intensif untuk mencapai kesepakatan baru dengan Teheran.
Trump mengatakan penundaan tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap permintaan para pemimpin negara Teluk yang meyakini masih ada peluang untuk menyelesaikan ketegangan melalui jalur negosiasi.
Menurut Trump, para pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan UEA menyampaikan keyakinan bahwa kesepakatan yang dapat diterima semua pihak di Timur Tengah masih mungkin dicapai, khususnya untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
“Serangan kita terhadap Iran direncanakan untuk besok. Namun kita tidak akan menyerang Iran besok, bertentangan dengan apa yang telah direncanakan,” ujar Trump, Senin (18/5/2026).
Ia menambahkan bahwa Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan meminta Washington memberi ruang bagi diplomasi agar situasi tidak semakin memanas.
"Saya telah diminta oleh Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman Al Saud, dan Presiden Uni Emirat Arab, Mohamed bin Zayed Al Nahyan, untuk menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Republik Islam Iran, yang dijadwalkan besok," kata Trump.
Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menginstruksikan Departemen Pertahanan AS atau Pentagon untuk membatalkan operasi yang telah disiapkan.
Meski demikian, ia menegaskan militer Amerika tetap berada dalam kondisi siaga tinggi apabila negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan sesuai tuntutan Washington.
“Kami siap melakukan serangan skala penuh terhadap Iran jika kesepakatan yang dapat diterima tidak tercapai,” kata Trump, seperti diberitakan Al Jazeera.
Presiden AS itu menekankan bahwa inti utama negosiasi tetap sama, yakni memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.
Baca juga: Minyak Mentah Muatan Kapal Tangker Iran Laku Terjual Rp 900 Miliar di BPA Fair
"Kesepakatan ini, yang terpenting, akan mencakup: Tidak ada senjata nuklir untuk Iran!" tulis Trump.
Ia menyebut pembicaraan serius masih berlangsung dan menunjukkan perkembangan yang cukup positif dalam beberapa jam terakhir.
Trump bahkan mengaku telah memberi tahu Israel mengenai keputusan penundaan serangan tersebut.
Hal ini menunjukkan koordinasi erat antara Washington dan Tel Aviv terkait perkembangan isu Iran yang kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir.