Meta PHK 8.000 Pekerja dan Batalkan 6.000 Rekrutmen Baru
Meta memangkas 8.000 pekerja global dan membatalkan 6.000 rekrutmen baru demi mempercepat investasi AI.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Endra Kurniawan
Dalam panggilan konferensi pendapatan April lalu, Zuckerberg menyebut investasi besar itu sebagai taruhan masa depan perusahaan.
“Cara berpikir tentang investasi ini adalah bahwa kita bertaruh pada hal-hal individual yang dipedulikan orang,” ujar Zuckerberg.
Meta juga disebut mulai mendorong penggunaan agen AI untuk membantu pekerjaan coding, pengawasan produktivitas, hingga tugas manajemen internal.
Baca juga: Google dan Meta Tingkatkan Kualitas Instagram di HP Android
Moral Karyawan Menurun
Wall Street Journal melaporkan, kebijakan Meta memicu keresahan di internal perusahaan.
Lebih dari 1.500 pekerja dilaporkan menandatangani petisi yang menolak program pelacakan data perangkat karyawan untuk pelatihan model AI.
Program tersebut disebut mampu merekam aktivitas seperti ketukan keyboard, pergerakan mouse, hingga tampilan layar pekerja.
Seorang staf kebijakan Meta yang tidak disebutkan namanya mengatakan moral pekerja turun drastis karena banyak karyawan merasa sedang “melatih AI yang nantinya akan menggantikan mereka”.
Wired melaporkan, keresahan juga diperparah oleh pemotongan kenaikan gaji tahunan dan turunnya rata-rata kompensasi pekerja hingga hampir 30 ribu dolar AS.
Investor Mulai Khawatir
Meski Meta terus menggelontorkan dana besar untuk AI, sejumlah investor mulai mempertanyakan efektivitas strategi tersebut.
CNBC melaporkan, analis Evercore memperkirakan PHK besar-besaran itu hanya akan menghemat sekitar 3 miliar dolar AS.
Angka tersebut dinilai kecil dibanding rencana pengeluaran Meta untuk infrastruktur AI yang diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar hingga akhir dekade ini.
Sementara itu, saham Meta tercatat naik tipis sekitar 0,1 persen dalam perdagangan tengah hari usai pengumuman restrukturisasi perusahaan.
Baca juga: Meta Gunakan Analisis Visual untuk Deteksi Usia, Tegaskan Bukan Face Recognition
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)