Bursa Iran Dibuka Lagi dengan Pembatasan Ketat usai 80 Hari Perang, Inflasi Tembus 70 Persen
Inflasi Iran melampaui 70 persen saat Bursa Teheran kembali dibuka usai tutup 80 hari akibat perang dan sanksi AS.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Garudea Prabawati
Menurutnya, inflasi tinggi dan pelemahan tajam nilai rial Iran terhadap dolar AS semakin memperburuk tekanan terhadap dunia usaha.
“Perdagangan telah terganggu secara parah, eksportir akan menghadapi kesulitan dalam mempertahankan operasi,” kata Haghbaali kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa inflasi yang meningkat akan semakin menghambat penciptaan nilai riil perusahaan.
Baca juga: Bursa Saham Dunia Anjlok, Harga Minyak Meroket, Pasar Khawatirkan Pasokan
Sektor-sektor utama Iran kini menghadapi gangguan perdagangan, hambatan ekspor, serta ketidakpastian produksi.
Harga barang kebutuhan pokok juga terus melonjak di berbagai wilayah Iran.
Pemerintah disebut hanya mampu memberikan subsidi terbatas dan kupon elektronik untuk membantu masyarakat menghadapi lonjakan harga.
Dilansir Iran International, inflasi mendekati tiga digit telah menggerus daya beli masyarakat dan memperumit stabilitas pasar keuangan.
Kerusakan Industri Masih Dirahasiakan
Banyak perusahaan besar Iran disebut belum mengungkap tingkat kerusakan fasilitas produksi mereka akibat perang.
Sejumlah pabrik baja dan petrokimia terbesar Iran dilaporkan menjadi target serangan selama konflik berlangsung.
Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai besaran kerugian, kapasitas produksi, maupun jadwal pemulihan industri.
Analis menilai kurangnya transparansi tersebut membuat investor sulit menghitung risiko sebenarnya di pasar Iran.
Iran International melaporkan pembukaan kembali bursa lebih mencerminkan “stabilisasi terkendali” dibanding pemulihan kepercayaan investor secara penuh.
Harapan pada Diplomasi AS-Iran
Di tengah tekanan ekonomi yang memburuk, harapan kini tertuju pada kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat.
Teheran masih meninjau proposal perdamaian AS yang disampaikan melalui mediator Pakistan.
Baca juga: Trump Klaim Proposal Damai AS-Iran Masuk Tahap Akhir, Tapi Ancaman Perang Besar Masih Mengintai
Haghbaali menilai masa depan ekonomi Iran sangat bergantung pada hasil negosiasi tersebut.
“Tentu saja, perjanjian perdamaian antara AS dan Iran dapat secara fundamental mengubah prospek dan meningkatkan ekspektasi pasar,” ujarnya.
Tanpa terobosan diplomatik, Iran diperkirakan masih akan menghadapi tekanan inflasi tinggi, lemahnya investasi, dan ancaman krisis ekonomi berkepanjangan.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)