Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Bursa Iran Dibuka Lagi dengan Pembatasan Ketat usai 80 Hari Perang, Inflasi Tembus 70 Persen

Inflasi Iran melampaui 70 persen saat Bursa Teheran kembali dibuka usai tutup 80 hari akibat perang dan sanksi AS.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Menurutnya, inflasi tinggi dan pelemahan tajam nilai rial Iran terhadap dolar AS semakin memperburuk tekanan terhadap dunia usaha.

“Perdagangan telah terganggu secara parah, eksportir akan menghadapi kesulitan dalam mempertahankan operasi,” kata Haghbaali kepada Al Jazeera.

Ia menambahkan bahwa inflasi yang meningkat akan semakin menghambat penciptaan nilai riil perusahaan.

Baca juga: Bursa Saham Dunia Anjlok, Harga Minyak Meroket, Pasar Khawatirkan Pasokan 

Sektor-sektor utama Iran kini menghadapi gangguan perdagangan, hambatan ekspor, serta ketidakpastian produksi.

Harga barang kebutuhan pokok juga terus melonjak di berbagai wilayah Iran.

Pemerintah disebut hanya mampu memberikan subsidi terbatas dan kupon elektronik untuk membantu masyarakat menghadapi lonjakan harga.

Dilansir Iran International, inflasi mendekati tiga digit telah menggerus daya beli masyarakat dan memperumit stabilitas pasar keuangan.

Kerusakan Industri Masih Dirahasiakan

Rekomendasi Untuk Anda

Banyak perusahaan besar Iran disebut belum mengungkap tingkat kerusakan fasilitas produksi mereka akibat perang.

Sejumlah pabrik baja dan petrokimia terbesar Iran dilaporkan menjadi target serangan selama konflik berlangsung.

Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai besaran kerugian, kapasitas produksi, maupun jadwal pemulihan industri.

Analis menilai kurangnya transparansi tersebut membuat investor sulit menghitung risiko sebenarnya di pasar Iran.

Iran International melaporkan pembukaan kembali bursa lebih mencerminkan “stabilisasi terkendali” dibanding pemulihan kepercayaan investor secara penuh.

Harapan pada Diplomasi AS-Iran

Di tengah tekanan ekonomi yang memburuk, harapan kini tertuju pada kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat.

Teheran masih meninjau proposal perdamaian AS yang disampaikan melalui mediator Pakistan.

Baca juga: Trump Klaim Proposal Damai AS-Iran Masuk Tahap Akhir, Tapi Ancaman Perang Besar Masih Mengintai

Haghbaali menilai masa depan ekonomi Iran sangat bergantung pada hasil negosiasi tersebut.

“Tentu saja, perjanjian perdamaian antara AS dan Iran dapat secara fundamental mengubah prospek dan meningkatkan ekspektasi pasar,” ujarnya.

Tanpa terobosan diplomatik, Iran diperkirakan masih akan menghadapi tekanan inflasi tinggi, lemahnya investasi, dan ancaman krisis ekonomi berkepanjangan.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas