5 Populer Internasional: Menguatnya Ringgit Malaysia - Daftar Kerugian AS dalam Perang Iran
Rangkuman berita populer internasional, di antaranya Ringgit Malaysia menguat terhadap dolar AS dan mata uang lain karena prospek ekonomi membaik
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Whiesa Daniswara
Jumlah tersebut belum termasuk lebih dari 100 rudal pencegat jenis SM-3 dan SM-6 yang juga digunakan Amerika Serikat untuk memperkuat perlindungan udara sekutunya itu.
Besarnya penggunaan sistem pertahanan tersebut dipicu tingginya intensitas serangan Iran selama perang berlangsung.
Militer Iran dilaporkan meluncurkan sekitar 650 rudal balistik ke arah Israel dalam berbagai gelombang serangan.
Rudal-rudal itu menyasar wilayah permukiman, fasilitas strategis, hingga pusat infrastruktur penting di Israel.
Kondisi tersebut memaksa sistem pertahanan udara Israel dan Amerika Serikat bekerja tanpa henti untuk mencegah rudal-rudal Iran menghantam target di darat.
THAAD atau Terminal High Altitude Area Defense menjadi salah satu sistem utama yang digunakan Washington untuk menghadapi ancaman tersebut.
Sistem pertahanan canggih itu dirancang untuk menghancurkan rudal balistik di ketinggian tinggi sebelum mencapai sasaran.
5. AS Kecolongan! Manfaatkan Gencatan Senjata, Iran Bangkit dan Mulai Produksi Massal Drone Lagi
Amerika Serikat (AS) mulai menghadapi kekhawatiran baru setelah intelijen mereka menemukan bahwa Iran diam-diam membangun kembali kemampuan militernya selama masa gencatan senjata dengan Washington dan Israel.
Dikutip dari CNN, Iran telah memulai kembali sebagian produksi drone hanya beberapa pekan setelah gencatan senjata enam minggu dimulai pada awal April 2026.
Empat sumber yang mengetahui laporan intelijen AS mengatakan pemulihan kekuatan militer Iran berlangsung jauh lebih cepat dibanding perkiraan awal Pentagon.
Temuan tersebut memunculkan kekhawatiran baru di Washington karena sebelumnya AS dan Israel mengklaim serangan gabungan mereka berhasil melumpuhkan kemampuan pertahanan Iran untuk waktu yang lama.
Namun laporan intelijen terbaru justru menunjukkan Teheran mampu kembali mengaktifkan fasilitas produksi senjata dalam waktu relatif singkat.
“Pihak Iran telah melampaui semua tenggat waktu yang ditetapkan oleh komunitas intelijen untuk rekonstitusi,” kata seorang pejabat AS kepada CNN.
Iran Bangun Lagi Basis Militernya
Menurut laporan intelijen AS, Iran tidak hanya kembali memproduksi drone.
Teheran juga disebut mulai memindahkan dan mengganti lokasi peluncur rudal, memperbaiki sistem persenjataan utama, serta membangun kembali kapasitas manufaktur militer yang sebelumnya rusak akibat pemboman AS-Israel.
CNN melaporkan sebagian fasilitas industri pertahanan Iran ternyata masih bertahan sehingga proses pemulihan tidak dimulai dari nol.
Hal itu membuat kemampuan militer Iran pulih jauh lebih cepat dibanding prediksi awal Washington.
Sejumlah pejabat intelijen bahkan memperkirakan Iran dapat memulihkan penuh kemampuan serangan drone hanya dalam waktu sekitar enam bulan.
Kecepatan pemulihan itu dinilai mengejutkan Pentagon dan memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas operasi militer besar-besaran yang sebelumnya dilakukan AS dan Israel.
(Tribunnews.com)