Perang Belum Usai! Iran Sebut Kesepakatan dengan AS Masih Sulit Tercapai
Iran akui negosiasi dengan AS mulai maju, tapi perdamaian masih jauh. Selat Hormuz dan sanksi jadi taruhan besar Timur Tengah.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Meski demikian, Baqaei menegaskan isu program nuklir Iran belum dimasukkan ke dalam pembahasan utama dalam tahap awal negosiasi.
Pemerintah Iran menyebut persoalan nuklir baru akan dibahas setelah kedua pihak mencapai kesepakatan mengenai kerangka dasar perdamaian dan penghentian konflik.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Teheran untuk memisahkan isu keamanan kawasan dari program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber utama ketegangan dengan Washington dan negara-negara Barat.
AS Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi terhadap Iran
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan meminta tim negosiatornya agar tidak terburu-buru menyelesaikan kesepakatan dengan Iran.
Trump ingin memastikan setiap poin dalam perjanjian benar-benar menguntungkan kepentingan Amerika Serikat serta mampu menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah dalam jangka panjang.
Pemerintah AS juga disebut berhati-hati dalam mempertimbangkan kemungkinan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari kesepakatan untuk meredakan konflik dan membuka kembali jalur perdagangan internasional yang terganggu akibat perang.
Meski demikian, Washington dikabarkan tetap ingin memastikan Iran memenuhi sejumlah syarat keamanan sebelum kebijakan pelonggaran sanksi benar-benar diterapkan.
Perkembangan negosiasi ini terus menjadi perhatian dunia internasional karena dinilai dapat menentukan arah konflik di Timur Tengah dalam beberapa bulan ke depan.
Selain berdampak pada hubungan diplomatik kedua negara, hasil pembicaraan juga dinilai berpengaruh terhadap keamanan global, stabilitas pasar energi dunia, hingga kelancaran distribusi minyak melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Pengamat internasional menilai keberhasilan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menurunkan ketegangan kawasan.
Namun jika negosiasi gagal mencapai titik temu, konflik dikhawatirkan kembali meningkat dan memicu ketidakstabilan yang lebih luas di Timur Tengah.
(Tribunnews.com / Namira)