Intelijen AS Klaim Mojtaba Khamenei Sembunyi di Lokasi Rahasia, Biang Kerok Dialog AS-Iran Membatu?
Mojtaba Khamenei disebut bersembunyi usai serangan Israel, komunikasi Iran lumpuh, perang kembali memanas.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan pihaknya meluncurkan serangan udara baru ke wilayah Iran bagian selatan.
Target serangan meliputi lokasi peluncur rudal serta kapal-kapal Iran yang diduga tengah memasang ranjau laut.
Baca juga: Lokasi Rahasia Mojtaba Khamenei dan Lambatnya Respons Iran Terhadap Proposal Amerika
Militer AS berdalih operasi tersebut dilakukan sebagai bentuk “membela diri” untuk melindungi pasukan mereka dari ancaman Iran.
Ledakan keras dilaporkan terdengar di sekitar Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis dekat Selat Hormuz.
Serangan itu terjadi di tengah gencatan senjata rapuh yang sebenarnya masih berlangsung sejak April 2026.
Selat Hormuz Kembali Jadi Ancaman
Memanasnya konflik kembali memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas Selat Hormuz yang menjadi jalur hampir 20 persen distribusi minyak dunia.
Iran hingga kini masih mempertahankan kontrol ketat terhadap lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut.
Harga minyak dunia pun langsung berfluktuasi setelah laporan serangan baru AS muncul ke publik.
Donald Trump sebelumnya mengklaim kesepakatan damai dengan Iran sebenarnya sudah “hampir selesai”.
Namun di saat bersamaan, Trump juga menuntut sejumlah negara Timur Tengah ikut menandatangani Abraham Accords sebagai bagian dari paket perdamaian regional.
Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Mesir, Turki, Bahrain, dan Yordania disebut masuk dalam daftar negara yang diharapkan ikut bergabung.
Baca juga: Intelijen AS Bongkar Lokasi Persembunyian Mojtaba Khamenei, Hanya Bisa Dihubungi Kurir Rahasia
Sejumlah analis menilai tuntutan tambahan tersebut justru berpotensi memperumit proses negosiasi yang sejak awal sudah berjalan rapuh.
Kini, dengan Pemimpin Tertinggi Iran disebut bersembunyi di bunker rahasia, komunikasi diplomatik yang lumpuh, serta serangan militer yang terus berlangsung, masa depan perdamaian Timur Tengah kembali berada di ujung ketidakpastian.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)