Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ketegangan Pecah Lagi, IRGC Klaim Tembak Drone Reaper AS usai Serangan CENTCOM ke Iran

IRGC mengklaim menembak drone MQ-9 Reaper AS setelah CENTCOM menyerang target Iran dekat Selat Hormuz.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Ringkasan Berita:
  • Ketegangan Iran-AS kembali memanas setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan serangan baru ke Iran selatan.
  • Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim berhasil menembak jatuh drone MQ-9 Reaper dan menargetkan jet tempur AS yang memasuki wilayah udara Iran.
  • Eskalasi ini meningkatkan kekhawatiran runtuhnya gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung sejak April 2026.

 

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat (ASS) kembali pecah meski kedua negara masih berada dalam masa gencatan senjata sementara.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menembak jatuh drone militer Amerika Serikat jenis MQ-9 Reaper.

Iran juga mengaku menargetkan satu jet tempur dan drone lain yang disebut memasuki wilayah udaranya.

Dilansir Al Jazeera, insiden itu terjadi hanya sehari setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan serangan baru ke Iran selatan.

Serangan tersebut menargetkan lokasi rudal dan kapal yang diduga hendak memasang ranjau laut di sekitar Selat Hormuz.

CENTCOM menyebut operasi itu dilakukan sebagai langkah “pertahanan diri”.

Rekomendasi Untuk Anda

“Serangan dilakukan untuk melindungi pasukan AS dari ancaman pasukan Iran,” demikian pernyataan CENTCOM.

IRGC Klaim Tembak Drone Reaper AS

Media pemerintah Iran menyebut pasukan IRGC berhasil menjatuhkan drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat pada Selasa (27/5/2026).

Baca juga: 5 Populer Internasional: IRGC Tembak Jatuh Drone MQ-9 Reaper - Kasus Kejahatan WNI di Tokyo Naik

Drone itu diklaim memasuki wilayah udara Iran saat ketegangan di Teluk Persia kembali meningkat.

Selain drone, Iran juga mengaku melepaskan tembakan ke arah jet tempur dan pesawat nirawak lain yang dianggap melanggar wilayah udara mereka.

Teheran menegaskan pihaknya memiliki hak “sah dan pasti” untuk membalas setiap pelanggaran gencatan senjata.

Hingga kini, Washington belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim jatuhnya drone tersebut.

Namun insiden ini langsung memperburuk situasi keamanan di kawasan Selat Hormuz.

Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas

Sejak gencatan senjata diumumkan pada 8 April 2026, Iran masih mempertahankan kontrol ketat atas jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Jalur tersebut merupakan rute vital yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Di sisi lain, AS terus menjalankan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

Langkah saling tekan itu membuat negosiasi damai berjalan sangat rapuh.

Para analis menilai Iran dan AS kini sama-sama berusaha meningkatkan posisi tawar sebelum kesepakatan permanen benar-benar tercapai.

Baca juga: Mengenal Drone Tempur MQ-9 Reaper AS yang Dihancurkan IRGC, Disebut Miliki Serangan Presisi Tinggi

Serangan dan Blokade Terus Berlanjut

Ketegangan sebenarnya sudah terus meningkat sejak perang pecah pada 28 Februari 2026.

Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menyerang Iran dengan tuduhan Teheran mengembangkan senjata nuklir.

Iran membantah tuduhan tersebut.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Pada 8 April, kedua pihak sepakat menghentikan perang sementara setelah mediasi Pakistan.

Setelah itu, berbagai insiden terus terjadi.

Mulai dari penyitaan kapal, serangan drone, hingga kebakaran fasilitas energi di kawasan Teluk.

AS bahkan memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.

Sementara Iran memperketat pengawasan kapal asing di Selat Hormuz.

Diplomasi Damai Masih Buntu

Baca juga: AS Rungkad Lagi! IRGC Berhasil Tembak Jatuh Drone Canggih MQ-9 Reaper, Jet F-35 Hampir jadi Sasaran

Meski konflik terus memanas, pembicaraan damai masih berlangsung melalui mediasi Qatar dan Pakistan.

Iran dilaporkan meminta pencairan aset miliaran dolar yang dibekukan serta pelonggaran sanksi minyak.

Teheran juga meminta jaminan penghentian serangan Israel di Lebanon selatan.

Sementara Presiden AS, Donald Trump, disebut ingin mengaitkan negosiasi Iran dengan upaya normalisasi hubungan Israel dan negara-negara Arab.

Para pengamat menilai kesepakatan damai tetap sulit tercapai karena tingkat ketidakpercayaan kedua pihak masih sangat tinggi.

Setiap serangan baru kini berpotensi memicu pecahnya konflik regional yang lebih besar di Timur Tengah.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas