Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ancaman Rusia Bikin Geger, AS Bantah Evakuasi Staf Kedubes di Kyiv

AS membantah telah mengevakuasi stafnya dari Kedutaan Besar AS di Kyiv, menyusul ancaman Rusia akan serangan besar di ibu kota Ukraina.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Ancaman Rusia Bikin Geger, AS Bantah Evakuasi Staf Kedubes di Kyiv
Akun X @USEmbassyKyiv
STAF KEDUBES AS - Foto staf kedutaan besar AS di Kyiv dari akun X @USEmbassyKyiv, memberikan pernyataan pada hari Kamis (28/5/2026) yang membantah bahwa AS mengevakuasi stafnya dari Kedutaan Besar AS di Kyiv, menyusul ancaman Rusia akan serangan besar di ibu kota Ukraina. 
Ringkasan Berita:
  • Kedutaan Besar AS di Kyiv membantah kabar evakuasi staf, menegaskan operasional tetap berjalan normal meski ada isu ancaman Rusia.
  • Bantahan ini muncul setelah pejabat Uni Eropa, Kaja Kallas, sempat menyebut AS meninggalkan Ukraina, sebelum pernyataannya kemudian dikoreksi.
  • Sebelumnya, Rusia mengatakan akan melakukan “serangan sistematis” ke Kyiv dan meminta warga asing segera meninggalkan kota.

TRIBUNNEWS.COM - Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) membantah kabar bahwa Washington mengevakuasi staf di kedutaannya di Kyiv, Ukraina, untuk menanggapi ancaman Rusia akan serangan besar di ibu kota tersebut.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Georgy Tykhyi telah menyampaikan hal ini kepada wartawan. 

"Kedutaan Besar AS beroperasi seperti biasa. Tidak ada perubahan dalam operasional kami, dan laporan apa pun yang menyatakan sebaliknya adalah salah. Tidak ada yang lebih penting bagi Departemen Luar Negeri selain keselamatan dan keamanan warga negara AS, dan departemen tersebut secara teratur meninjau situasi keamanan di kedutaan besar di Kyiv," kata para diplomat AS dalam sebuah pernyataan, Kamis (28/5/2026).

Kedutaan besar tersebut juga menekankan, karena konflik bersenjata, warga negara AS tidak boleh mengunjungi Ukraina dengan alasan apa pun.

"Kami menegaskan kembali pesan kami bahwa warga Amerika tidak boleh bepergian ke Ukraina dengan alasan apa pun karena konflik bersenjata," bunyi pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut dibuat setelah Perwakilan Tinggi Uni Eropa Kaia Kallas menyatakan bahwa kedutaan besar AS dievakuasi dari Ukraina di tengah ancaman dari Federasi Rusia.

"Kemarin, informasi datang dari Ukraina bahwa semua kedutaan tetap berada di tempatnya, kecuali satu. Jadi ini juga membutuhkan keberanian dari kedutaan-kedutaan tersebut. Tapi ya, semua orang Eropa tetap tinggal. Amerika sudah pergi," kata Kallas sebelum pertemuan informal para menteri luar negeri Uni Eropa di Siprus.

Rekomendasi Untuk Anda

Setelah AS membantah kabar tersebut, situs web layanan diplomatik Uni Eropa mengedit transkrip jawaban Kallas atas pertanyaan para jurnalis.

"Juga, seperti yang kita dengar dari Ukraina kemarin, semua kedutaan tetap berada di sana, yang juga membutuhkan keberanian dari kedutaan-kedutaan tersebut, tetapi ya, semua orang Eropa tetap berada di sana," demikian bunyi cuplikan tersebut, yang oleh Uni Eropa ditandai sebagai "dikoreksi terkait kehadiran diplomatik di Kyiv".

Sebelumnya, kantor berita Suspilne telah meminta komentar dari Kedutaan Besar AS di Ukraina, Delegasi Uni Eropa untuk Ukraina, serta Departemen Luar Negeri AS dan pihak berwenang Ukraina.

Baca juga: Putin Siapkan Kebijakan Tak Lazim Lawan Drone Ukraina: Karyawan Bank Rusia Kini Bisa Tembak Langsung

Rusia Mengancam akan Serang Kota Kyiv, Minta Warga Asing Pergi

Pada Senin (25/5/2026), Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa pasukan mereka telah memulai apa yang disebut sebagai “serangan sistematis dan berkelanjutan” terhadap fasilitas industri pertahanan Ukraina serta sejumlah “pusat pengambilan keputusan” di Kyiv.

Moskow juga mengeluarkan imbauan agar warga negara asing, termasuk staf diplomatik dan pekerja organisasi internasional, segera meninggalkan ibu kota Ukraina.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menilai bahwa ancaman Rusia itu bertujuan untuk menekan dan mengintimidasi para diplomat Barat.

Namun ia menegaskan bahwa Ukraina tidak akan tunduk pada bentuk tekanan semacam itu.

RUSIA SERANG KYIV - Foto diambil dari laman Presiden Ukraina Zelenskyy. Pada 25 Mei, petugas pemadam sedang memadamkan api dari kebakaran di bangunan yang dihantam serangan Rusia di distrik Shevchenkivskyi dan Podilskyi, Kyiv, pada 24 Mei 2026.
RUSIA SERANG KYIV - Foto diambil dari laman Presiden Ukraina Zelenskyy. Pada 25 Mei, petugas pemadam sedang memadamkan api dari kebakaran di bangunan yang dihantam serangan Rusia di distrik Shevchenkivskyi dan Podilskyi, Kyiv, pada 24 Mei 2026. (Website Presiden Ukraina)

Sementara itu, Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina, Katarína Mathernová, menyampaikan bahwa para diplomat Barat tetap akan bertahan di Kyiv meskipun adanya ancaman baru dari pihak Rusia.

Sebelumnya, pada malam 23–24 Mei, Rusia dilaporkan melancarkan serangan gabungan berskala besar ke wilayah Ukraina dengan menggunakan sekitar 90 rudal dan 600 drone dari berbagai jenis, termasuk rudal balistik jarak menengah Oreshnik.

Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa dan kerusakan luas di sejumlah wilayah, termasuk Kyiv, di mana puluhan bangunan tempat tinggal dilaporkan rusak atau hancur.

Per 25 Mei, total korban terus bertambah dengan laporan menyebutkan sedikitnya dua orang tewas dan lebih dari 90 orang mengalami luka-luka, termasuk anak-anak, seperti diberitakan Pravda.

Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia dan Ukraina mulai terjadi secara terbuka pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer ke sejumlah wilayah Ukraina. Namun, konflik ini sebenarnya sudah memiliki akar panjang sejak 1991, saat Uni Soviet runtuh dan Ukraina memutuskan menjadi negara merdeka serta tidak lagi berada di bawah pengaruh langsung Rusia.

Dalam perkembangannya, Ukraina semakin menjalin hubungan dekat dengan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. Negara tersebut juga menunjukkan ketertarikan untuk bergabung dengan NATO. Hal ini kemudian dianggap Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan nasional serta pengaruhnya di kawasan Eropa Timur.

Ketegangan makin meningkat pada 2014 setelah Revolusi Maidan yang menggulingkan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych yang dikenal dekat dengan Rusia. Setelah itu, Rusia mencaplok Krimea dan mendukung kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk. Sejak saat itu, konflik bersenjata terus berlangsung di wilayah timur Ukraina.

Berbagai upaya perdamaian pernah dilakukan melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman, tetapi kesepakatan tersebut tidak berjalan efektif karena kedua pihak saling menuduh melanggar isi perjanjian.

Pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin kemudian mengumumkan dimulainya “operasi militer khusus” di Ukraina. Rusia menyebut langkah itu sebagai upaya melindungi warga berbahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO, sementara Ukraina dan negara Barat menilainya sebagai invasi yang melanggar kedaulatan negara.

Sejak perang berlangsung, negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa memberikan dukungan militer, ekonomi, dan kemanusiaan kepada Ukraina. Sebaliknya, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang berdampak pada ekonomi dan sektor energinya.

Konflik ini juga membawa dampak luas bagi dunia, termasuk krisis energi, gangguan pasokan pangan global, dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Hingga saat ini, perang masih berlanjut meskipun berbagai upaya diplomasi terus dilakukan untuk mencapai perdamaian.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas