Dampak Konflik Timur Tengah, Industri Mainan Anak di China Dilanda PHK Massal dan Penutupan Pabrik
Industri mainan China menghadapi tekanan berat akibat turunnya pesanan ekspor hingga hampir 50 persen, kenaikan biaya bahan baku.
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Industri mainan China menghadapi tekanan berat akibat turunnya pesanan ekspor hingga hampir 50 persen, kenaikan biaya bahan baku dan logistik, serta dampak konflik Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok global.
- Penutupan empat pabrik milik Washing Toys Group di Yulin, Guangxi, memicu PHK massal dan aksi protes pekerja. Sejumlah produsen mainan besar lainnya juga dilaporkan tutup sejak pertengahan 2025.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri mainan China disebut tengah menghadapi krisis terparah dalam beberapa dekade terakhir, ditandai dengan anjloknya pesanan ekspor, lonjakan biaya bahan baku, hingga penutupan pabrik yang memicu gelombang PHK.
Dikutip dari PML Daily, Minggu (31/5/2026), pesanan industri mainan dilaporkan turun hampir 50 persen, sementara biaya bahan baku meningkat hingga tiga kali lipat akibat konflik yang terus memanas di Timur Tengah.
Situasi itu diperparah dengan penutupan empat pabrik besar di Yulin, Guangxi, pada 20 April 2026 yang membuat puluhan ribu pekerja kehilangan pekerjaan secara mendadak.
PML Daily menyebut, kondisi tersebut dampak kebijakan ekonomi dan kurangnya pelindungan pekerja dan menjaga stabilitas sektor manufaktur ekspor.
Penutupan pabrik di Yulin disebut menjadi simbol krisis yang lebih luas.
Washing Toys Group, perusahaan yang didanai Hong Kong dan telah beroperasi hampir 50 tahun, menutup empat pabrik milik anak usahanya secara mendadak.
Akibatnya, ribuan pekerja—banyak di antaranya perempuan—turun ke jalan menuntut pembayaran upah yang belum diterima.
Polisi dikerahkan untuk mengendalikan aksi protes di kawasan industri tersebut.
Penutupan Pabrik
Washing Toys sebelumnya dikenal sebagai salah satu produsen besar dengan 40 jalur produksi dan kapasitas sekitar 30 ribu unit per hari.
Perusahaan itu mengekspor produknya ke lebih dari 20 negara, dengan sekitar 85 persen pesanan berasal dari Amerika Serikat.
Menurut laporan tersebut, kejatuhan perusahaan dipicu ketegangan tarif AS-China dan keterlambatan pembayaran dari klien asing.
Namun, PML Daily menyebut masalah yang lebih mendasar berasal dari kegagalan Beijing melindungi industri dari guncangan eksternal dan kebijakan yang dinilai menekan sektor swasta.
Penutupan pabrik di Yulin juga disebut bukan kasus tunggal.
Sejak pertengahan 2025, sejumlah perusahaan besar lain seperti Kenwa Toys, Shenley Toys, Double Toys, dan Everwind Toys dilaporkan ikut tutup.
Everwind sendiri disebut pernah mempekerjakan hingga 300 ribu pekerja sebelum bangkrut.