PBB Peringatkan Dampak Meluasnya Perang Ukraina Imbas Insiden Drone Rusia Jatuh di Rumania
Sebuah drone yang diidentifikasi oleh pihak berwenang Rumania sebagai milik Rusia jatuh ke sebuah bangunan tempat tinggal di kota Galati.
Penulis:
Nuryanti
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Sebuah drone yang diidentifikasi oleh pihak berwenang Rumania sebagai milik Rusia jatuh ke sebuah bangunan tempat tinggal di kota Galati.
- PBB pun kembali menegaskan peringatan tentang "potensi dampak meluas" dari perang Ukraina.
- PBB menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat semakin memperburuk situasi.
TRIBUNNEWS.COM - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menegaskan peringatan tentang "potensi dampak meluas" dari perang Ukraina.
Peringatan disampaikan PBB setelah sebuah drone yang diidentifikasi oleh pihak berwenang Rumania sebagai milik Rusia jatuh ke sebuah bangunan tempat tinggal di kota Galati, bagian tenggara Rumania, dan melukai dua orang.
"Jumat lalu, sebuah insiden berbahaya memperjelas peringatan kami yang sering disampaikan tentang potensi meluasnya perang," kata Kayoko Gotoh, direktur Divisi Eropa dan Asia Tengah untuk Departemen Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian serta Operasi Perdamaian PBB, kepada Dewan Keamanan PBB, Senin (1/6/2026), dilansir Anadolu Agency.
Gotoh mengatakan bahwa pada malam tanggal 28-29 Mei, "sebuah drone bersenjata meledak di lantai atas sebuah gedung apartemen 10 lantai di kota Galati, Rumania timur, melukai dua penghuni -- seorang wanita dan seorang anak."
Ia menyatakan ini bukanlah pelanggaran wilayah udara Rumania pertama yang dilaporkan oleh pesawat tak berawak bersenjata sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.
Menurutnya, insiden tersebut terjadi di tengah "tren yang mengkhawatirkan terkait penyusupan pesawat tak berawak ke wilayah udara dan perairan teritorial negara-negara yang berbatasan dengan Ukraina atau Federasi Rusia."
"PBB mengutuk keras semua serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil," tegasnya.
"Serangan semacam itu, di mana pun terjadi, melanggar hukum humaniter internasional dan harus segera dihentikan. Warga sipil harus dilindungi setiap saat," tambah Gotoh.
Sembari memperingatkan risiko eskalasi, ia mengatakan:
"Seperti yang ditekankan oleh Sekretaris Jenderal pekan lalu, lintasan eskalasi dan intensifikasi berbahaya yang kita saksikan saat ini berisiko lepas kendali."
"Arah kebijakan saat ini harus diubah," jelasnya.
"Risiko salah perhitungan sangat berbahaya bagi keselamatan fasilitas nuklir," katanya, seraya menambahkan bahwa "serangan terhadap lokasi nuklir adalah tindakan sembrono dan tidak dapat diterima."
Baca juga: Malam Mencekam di Ukraina, Rusia Luncurkan Serangan Besar ke Kyiv, Dnipro, Kharkiv
Dia menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat semakin memperburuk situasi.
"Dialog dan negosiasi" harus segera dilanjutkan, katanya, seraya menekankan bahwa diplomasi harus diberi kesempatan untuk menciptakan kondisi perdamaian di Ukraina.
"Kedamaian yang berkontribusi pada lingkungan regional dan internasional yang lebih stabil," tambahnya.
Pernyataan Rumania dan Rusia
Menurut pihak berwenang Rumania, sebuah drone Rusia menabrak gedung apartemen 10 lantai pada Jumat (29/5/2026) dini hari, menyebabkan ledakan dan kebakaran yang melukai dua orang.
Menteri Luar Negeri Rumania, Luminita Odobescu, yang juga menghadiri pertemuan Dewan tentang insiden pesawat tak berawak tersebut, mengutuk "perilaku sembrono ini dan intrusi nyata yang berulang kali dilakukan oleh kendaraan Rusia ke wilayah kedaulatan kami, terlepas dari apa tujuan awal mereka."
"Insiden terbaru ini merupakan kenyataan yang sangat meresahkan, karena menunjukkan peningkatan pola serangan pesawat tak berawak tanpa pandang bulu yang melukai warga sipil di perbatasan, dan perilaku seperti itu tidak dapat diterima berdasarkan Piagam PBB dan hukum internasional," tambahnya.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin meminta Rumania untuk melakukan penyelidikan atas masalah tersebut.
Putin menunjukkan bahwa drone Ukraina sebelumnya telah melintasi perbatasan ke Finlandia, Polandia, dan negara-negara Baltik, yang awalnya memicu tuduhan terhadap Moskow sebelum penyelidikan menghasilkan kesimpulan yang berbeda.
Disebut sebagai Insiden Terburuk
Meskipun Rumania telah beberapa kali mengonfirmasi adanya pecahan drone di wilayahnya sejak perang dimulai pada tahun 2022, termasuk di Galati pada bulan April tahun ini, belum pernah ada korban luka dalam insiden drone yang banyak di antaranya mendarat di daerah terpencil.
Menanggapi serangan terbaru tersebut, Presiden Rumania Nicusor Dan mengadakan pertemuan dengan badan pertahanan tertinggi negara anggota NATO pada hari Jumat untuk membahas implikasi dari apa yang disebutnya sebagai "insiden terburuk yang menimpa wilayah nasional" sejak Rusia menginvasi Ukraina, dan menyalahkan Rusia secara langsung atas insiden tersebut.
“Kami akan mengambil tindakan proporsional terhadap Federasi Rusia. Tidak ada keraguan tentang pelaku dan penyebab serangan ini,” tulisnya dalam sebuah unggahan di Facebook.
Dan menambahkan bahwa pikirannya tertuju pada orang-orang yang terluka, keluarga, dan warga "yang mengalami saat-saat mengerikan di rumah mereka sendiri."
Baca juga: Rusia Ancam Serangan Besar tapi Tak Kunjung Terjadi, Ukraina Sebut Ini Permainan Psikologis
Militer Rumania mengerahkan dua jet tempur F-16 dan sebuah helikopter yang berwenang untuk menyerang target, dan pesan peringatan dikirim kepada penduduk di daerah yang terkena dampak.
Dalam beberapa tahun terakhir, pelanggaran wilayah udara telah menjadi begitu umum di Rumania sehingga para pembuat Undang-undang mengesahkan peraturan tahun lalu yang mengizinkan tentara untuk menembak jatuh drone yang memasuki wilayah udaranya sebagai upaya terakhir.
Namun Rumania tetap berhati-hati dalam menembak jatuh drone yang menyimpang, yang dapat menimbulkan risiko bagi daerah berpenduduk.
Dilansir Al Arabiya, Rusia telah menggunakan rudal balistik jarak jauh dan drone untuk merusak jaringan listrik Ukraina dan membombardir kota-kota, dan Ukraina telah bersiap menghadapi bombardir berat lebih lanjut.
Insiden terbaru ini menambah daftar masalah terkait drone yang baru-baru ini menimpa Eropa.
Dalam beberapa bulan terakhir, drone Ukraina telah menabrak cerobong asap pembangkit listrik di Estonia, menghantam tangki bahan bakar kosong di Latvia, dan ditembak jatuh oleh jet tempur Rumania yang ditempatkan di Lituania.
Para pejabat Ukraina meminta maaf dan mengatakan bahwa drone tersebut ditujukan pada target militer di dalam Rusia tetapi melenceng dari jalur karena gangguan elektronik Rusia.
Sejak perang dimulai pada tahun 2022, Polandia, Kroasia, Rumania, dan Moldova yang bukan anggota NATO telah melaporkan pelanggaran wilayah udara dan menemukan pecahan drone di wilayah mereka.
Serangkaian pelanggaran wilayah udara telah memunculkan pertanyaan tentang kondisi pertahanan udara di sayap timur NATO.
Negara-negara NATO Beri Kecaman
Estonia, Lithuania, dan Latvia, serta Finlandia, telah melaporkan pelanggaran berulang ke wilayah udara mereka dalam beberapa bulan terakhir.
Pelanggaran wilayah udara oleh drone menyebabkan runtuhnya pemerintahan di Latvia awal bulan ini.
Diberitakan Al Jazeera, sekutu NATO dan pihak lain ikut menyuarakan kemarahan mereka.
Menteri Urusan Eropa Prancis, Benjamin Haddad, mengatakan insiden tersebut menyoroti ancaman yang ditimbulkan Rusia terhadap keamanan Eropa, seraya mencatat bahwa pasukan Prancis ditempatkan di Rumania.
“Terlepas dari apakah itu disengaja atau akibat dari ketidakmampuan, Rusia tetap berbahaya dan kita harus membela diri terhadapnya,” kata Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski kepada kantor berita Reuters.
Baca juga: Putin Disapa Pal Laich di Depan Publik, Teori Pemeran Pengganti Kembali Mengguncang Rusia
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan insiden itu menunjukkan bahwa “perang agresi Rusia telah melampaui batas lagi.”
Seorang juru bicara NATO juga mengecam “kecerobohan Rusia” di media sosial.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha, yang negaranya mendesak Amerika Serikat untuk membantu meningkatkan pertahanan udaranya, berjanji bahwa “Ukraina berdiri teguh di samping Rumania” seraya menyebut Rusia sebagai ancaman bagi kawasan Laut Hitam dan benua Eropa yang lebih luas.
“Kami siap bekerja sama secara erat untuk memperkuat perlindungan dari ancaman tersebut,” tulisnya di media sosial, menambahkan bahwa upaya untuk memperkuat pertahanan udara Ukraina adalah “tugas strategis” untuk melindungi tidak hanya Ukraina tetapi juga mengurangi risiko bagi negara-negara tetangga.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa peningkatan serangan berisiko lepas kendali, dengan konsekuensi yang tidak diketahui dan tidak diinginkan.
Dia mengatakan bahwa lebih banyak warga sipil tewas dalam empat bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama dalam tiga tahun sebelumnya, dan menyerukan diplomasi, de-eskalasi segera, dan "gencatan senjata penuh dan tanpa syarat".
(Tribunnews.com/Nuryanti)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.