5 Populer Internasional: Menlu AS Yakin Mojtaba Khamenei Masih Hidup - Isu Perseteruan AS-Israel
Rangkuman berita populer internasional, di antaranya Menlu AS Marco Rubio menegaskan Mojtaba Khamenei masih hidup dan tetap terlibat
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Axios melaporkan pada Senin (1/6/2026) bahwa Trump menyebut Netanyahu "sangat gila" dan mencaci maki dia atas peningkatan ketegangan Israel di Lebanon.
Pada waktu yang hampir bersamaan, serangan Israel menewaskan enam orang, termasuk dua anak, di kota al-Marwaniyah, Lebanon selatan.
Para ahli mengatakan bahwa terlepas dari bocoran perselisihan dan kata-kata kasar antara Trump dan Netanyahu, pada akhirnya kebijakanlah yang terpenting, dan kebijakan tersebut hampir tidak berubah.
Direktur kebijakan di National Iranian American Council Action (NIAC), Ryan Costello, mengatakan pengamat politik semakin "mengejek" laporan tentang kemarahan tertutup dari Trump terhadap Netanyahu.
“Yang benar-benar penting adalah apa yang sebenarnya terjadi dalam praktiknya,” kata Costello kepada Al Jazeera, Selasa (2/6/2026).
Perang informasi
Costello berpendapat bahwa kebocoran percakapan tersebut kemungkinan besar ditujukan kepada Iran.
“Saya melihat ini terutama sebagai sinyal kepada Iran bahwa Trump serius, dan dia ingin memisahkan apa yang terjadi di Lebanon dan serangan Israel dari negosiasi Iran,” kata Costello.
3. Senat AS Mulai Resah, Cecar Marco Rubio Soal Sanksi Iran dan Selat Hormuz
Keresahan mulai menyelimuti para anggota Senat Amerika Serikat (AS) terkait perang Iran yang tak kunjung usai.
Keresahan mulai mereka utarakan dengan memanggil Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
Dengan situasi Ruang Sidang Kongres AS yang tegang, Rubio menghadapi ujian berat dalam kesaksian publik pertamanya sejak konflik bersenjata melawan Iran meletus.
Mantan Senator Florida itu dicecar habis-habisan oleh para anggota dewan mengenai transparansi, strategi akhir perang, serta dampak ekonomi domestik yang kian mencekik warga Amerika.
Dalam sidang tersebut, Rubio menegaskan posisi keras Washington dengan menyebut tidak ada barter pelonggaran sanksi ekonomi hanya demi pembukaan kembali Selat Hormuz yang diblokade.
"Iran disanksi karena aktivitas nuklir mereka dan pengayaan uranium tingkat tinggi."
"Jika mereka ingin sanksi dicabut, syaratnya cuma satu: hentikan total program nuklir tersebut."