Tim Negosiasi AS untuk Perang Iran Diam-diam Bertemu Pakar Nuklir, Bahas Apa?
Tim negosiasi Amerika Serikat (AS) yang berfokus untuk perdamaian Iran secara diam-diam bertemu dengan pakar nuklir.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Latar belakang langkah cepat ini dipicu oleh ketegasan Presiden Donald Trump.
Sejak ketegangan militer meluas, Trump bersikeras bahwa syarat mutlak dari setiap perjanjian damai untuk mengakhiri perang adalah jaminan total bahwa Iran tidak akan pernah bisa memproduksi atau memiliki senjata hulu ledak nuklir.
Menurut estimasi intelijen, Iran saat ini diyakini mengantongi sekitar 408 kilogram uranium yang diperkaya tinggi, yang tersebar di situs-situs bawah tanah yang sempat digempur jet tempur AS setahun lalu.
Ketegangan di Timur Tengah Meningkat
Situasi di Teluk Arab kembali membara setelah Iran dilaporkan meluncurkan gelombang serangan rudal balistik dan drone ke wilayah Kuwait dan Bahrain.
Insiden ini memaksa Bahrain mengaktifkan sirine tanda bahaya udara di penjuru negeri.
Mengutip Associated Press, Kementerian Luar Negeri Bahrain mengonfirmasi adanya serangan tersebut.
Baca juga: AS Lancarkan Serangan ke Radar Iran, Kawasan Selat Hormuz Makin Panas
Beruntung, sistem pertahanan udara berhasil mencegat pergerakan rudal-rudal tersebut sebelum menghantam target utama.
"Kami mendesak Iran untuk segera menghentikan segala bentuk serangan terhadap negara-negara tetangga di kawasan Teluk," demikian pernyataan resmi Kemenlu Bahrain.
Ketegangan ini meningkat hanya berselang beberapa jam setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa mereka telah merontokkan sejumlah proyektil Iran di sekitar Selat Hormuz.
Tak tinggal diam, militer AS langsung melancarkan serangan balasan ke fasilitas radar pengawasan pantai milik Iran.
Menurut rilis resmi CENTCOM, Iran total menembakkan tujuh rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain pada Jumat malam.
Enam di antaranya berhasil dilumpuhkan oleh pasukan AS, sementara satu proyektil lainnya jatuh sebelum mencapai target.
"Tidak ada laporan mengenai korban luka dari personel militer AS dalam insiden ini," tulis CENTCOM melalui akun media sosial resminya.
Selain rudal, AS juga menembak jatuh empat drone tempur Iran yang dinilai mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Klaim sebaliknya datang dari Teheran.