Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

100 Hari Perang AS-Iran: Berulang Kali Hampir Berdamai tapi Selalu Gagal di Detik Akhir

AS dan Iran beberapa kali hampir capai kesepakatan damai dalam 100 hari perang, namun selalu gagal di detik terakhir.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Ringkasan Berita:
  • Seratus hari perang AS–Israel melawan Iran diwarnai beberapa momen ketika Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan damai, tetapi selalu gagal di tahap akhir.
  • Perbedaan soal program nuklir, konflik Lebanon, dan Selat Hormuz menjadi penghambat utama negosiasi.
  • Meski intensitas perang sempat menurun, jalur diplomasi tetap rapuh dan belum menghasilkan terobosan.

 

TRIBUNNEWS.COM - Perang Amerika Serikat (AS)–Israel vs Iran dimulai pada 28 Februari 2026 telah memasuki hari ke-100, Minggu (7/6/2026).

Upaya untuk mencapai kesepakatan damai sampai hari ini masih menggantung.

Di balik kebuntuan itu, Washington dan Teheran disebut sudah beberapa kali hampir mencapai titik kesepakatan sebelum kembali gagal di detik akhir.

Konflik ini berawal dari Operasi Epic Fury, kampanye militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 kemarin.

Iran kemudian membalas dengan serangan ke Israel serta aset militer Amerika di kawasan Teluk, kemudian memperluas eskalasi ke berbagai front regional.

Meski intensitas perang menurun setelah gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan pada 8 April 2026, jalur diplomasi tetap rapuh.

Rekomendasi Untuk Anda

Negosiasi damai yang digelar di Islamabad pada 11–12 April 2026 kemarin menjadi momen paling dekat kedua negara untuk kembali ke meja kesepakatan sejak Revolusi Iran 1979.

Delegasi AS saat itu dipimpin Wakil Presiden AS, JD Vance bersama utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden AS, Donald Trump.

Sementara Iran diwakili Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dan pejabat keamanan nasional Ali Bagheri Kani.

Menjelang pertemuan, pihak Iran menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset luar negeri menjadi syarat penting.

Pembicaraan itu berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam negosiasi.

Baca juga: Perang Iran Hari ke-100 : 7.000 Orang Tewas, Harga BBM Naik di 146 Negara

“Berita baiknya kami berdiskusi secara substantif, berita buruknya kami belum mencapai kesepakatan,” kata JD Vance usai pertemuan di Islamabad.

Ia menegaskan Washington menginginkan jaminan tegas bahwa Iran tidak akan mengejar senjata nuklir, bukan hanya dalam jangka pendek tetapi juga jangka panjang.

Kendati demikian, menurutnya, Teheran belum memberikan komitmen tersebut.

Dari pihak Iran, kedutaan besar di Islamabad menyebut pembicaraan itu “bukan peristiwa tunggal, tetapi sebuah proses”, meski sejak itu tidak ada lagi dialog langsung lanjutan.

Titik Krisis Nuklir Jadi Hambatan Utama

Salah satu hambatan terbesar dalam negosiasi adalah program nuklir Iran.

Negara itu diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen—tingkat yang jauh di atas kebutuhan energi sipil, tetapi masih di bawah level senjata.

Iran bersikeras program nuklirnya bersifat damai.

Di sisi lain, AS dan Israel menuduh Teheran mempertahankan kemampuan menuju senjata nuklir.

Perbedaan paling tajam terletak pada pendekatan negosiasi.

Washington menuntut kejelasan penuh sejak awal, sementara Iran ingin detail teknis dibahas bertahap dalam proses lanjutan.

Baca juga: Terjebak di Selat Hormuz selama hampir 100 hari — Hanya ada satu jalan keluar

Menurut analis Naysan Rafati, kegagalan kesepakatan sering terjadi meski kedua pihak sudah sangat dekat.

“Kadang ada 95 persen kesepakatan, tetapi lima persen sisanya justru yang paling sulit,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Ia menambahkan, perbedaan juga terjadi pada urutan implementasi kesepakatan.

Iran ingin fleksibilitas dalam detail teknis, sementara AS menuntut kepastian sejak awal.

Gencatan Senjata Lebanon dan Eskalasi Baru

Tak lama setelah perundingan gagal, Washington mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran untuk menekan pendapatan minyak Teheran.

Langkah ini justru memperburuk ketegangan dan menghapus momentum diplomasi yang tersisa.

Di saat yang sama, konflik di Lebanon menjadi faktor lain yang memperumit proses damai.

Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran terlibat pertempuran intens sejak awal perang.

Pada April, AS mengumumkan gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon.

Sementara di lapangan, serangan tetap terjadi dan menewaskan ratusan orang meski kesepakatan berlaku.

Lebih dari satu juta orang telah mengungsi di Lebanon sejak konflik meningkat, sementara ribuan lainnya tewas akibat serangan lintas wilayah.

Bagi Iran, stabilitas Lebanon dianggap sebagai “garis merah” dalam setiap proses perdamaian yang lebih luas.

Baca juga: 100 Hari Perang Iran: Trump Gagal Jual Narasi Kemenangan, Justru Jadi Boomerang Politik

Ketegangan ini membuat upaya diplomasi regional semakin sulit berkembang.

Selat Hormuz Jadi Kartu Tekanan Strategis

Selain isu nuklir dan Lebanon, Selat Hormuz juga menjadi titik sengketa penting dalam negosiasi.

Iran sempat membatasi lalu lintas kapal di selat tersebut, jalur yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sebelum perang.

Dalam beberapa kasus, kapal asing bahkan harus membayar biaya transit kepada pasukan Iran.

Iran juga mengusulkan sistem biaya transit atau tarif pelayaran dalam proposal damai sebelumnya.

AS menolak keras gagasan tersebut.

“Washington ingin mengembalikan kondisi seperti sebelum perang, di mana tidak ada ancaman terhadap navigasi,” kata Rafati.

Ketegangan di Hormuz menjadikan isu ini bukan hanya soal keamanan, tetapi juga kontrol ekonomi global atas jalur energi utama dunia.

Diplomasi yang Selalu Dekat tapi Tak Pernah Sampai

Serangkaian peristiwa sejak April menunjukkan pola yang sama: kemajuan awal, lalu kebuntuan di titik-titik krusial.

Meski ada momen optimisme, tidak ada kesepakatan yang berhasil bertahan.

Ketegangan bahkan kembali meningkat setelah AS memperketat tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran, sementara Israel terus melanjutkan operasi di beberapa wilayah.

Dalam beberapa kasus, bahkan kesepakatan parsial langsung runtuh hanya dalam hitungan hari setelah diumumkan.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas