Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Etika Melayat dan Menghadiri Pemakaman di Jepang, Ada Pula Pantangannya

WNI di Jepang perlu memahami etika pemakaman, mulai dari pakaian hitam, uang duka kōden, hingga tata cara belasungkawa

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Etika Melayat dan Menghadiri Pemakaman di Jepang, Ada Pula Pantangannya
Tribunnews.com/Richard Susilo
UANG DUKA CITA - Kōden bukuro (amplop dukacita) berisi uang duka cita, yang biasa dipakai saat melayat keluarga yang meninggal. Yang tengah untuk isi 3000 yen atau lebih dan yang kanan pita silver tersebut untuk isi sumbangan duka 5000 yen atau lebih. Jadi jangan salah beli amplop duka cita di Jepang. (Richard Susilo) 

Saat bertemu keluarga yang berduka, ucapan singkat dan tulus lebih dihargai daripada kata-kata panjang.

Ucapan yang paling umum adalah: 「このたびはご愁傷様です」 (Kono tabi wa goshūshō-sama desu) “Turut berduka cita atas wafatnya almarhum/almarhumah.”

Atau yang lebih formal:

「心よりお悔やみ申し上げます」 (Kokoro yori okuyami mōshiagemasu) “Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya.”

4. Tata Cara Membakar Dupa

Dalam pemakaman Buddha, para pelayat biasanya melakukan penghormatan dengan dupa atau shōkō (焼香).

Umumnya tamu membungkuk kepada keluarga yang berduka, mengambil sedikit bubuk dupa dan meletakkannya di atas bara, kemudian berdoa sejenak sebelum membungkuk kembali.

Karena tata caranya bisa berbeda-beda tergantung aliran Buddha dan daerah, pelayat yang belum terbiasa cukup mengikuti orang yang berada di depannya.

Baca juga: Tiga Wanita Ditemukan Tewas di Apartemen Sapporo Jepang, Polisi Selidiki Dugaan Bunuh Diri Bersama

Hal-Hal yang Sebaiknya Dihindari
Rekomendasi Untuk Anda

Dalam suasana berkabung, terdapat beberapa hal yang dianggap tidak sopan atau pantangan, antara lain: Jangan berbicara keras atau tertawa, dilarang mengambil foto tanpa izin keluarga,  Hindarkan menggunakan kata-kata yang bermakna pengulangan seperti: 重ね重ね (kasanegasane) = berulang-ulang;  たびたび (tabitabi) = berkali-kali dan  再び (futatabi) = lagi

Ungkapan tersebut dihindari karena dianggap mengingatkan pada kemungkinan terulangnya kematian atau musibah.

Pemakaman Katolik dan Kristen

Bagi umat Katolik maupun Kristen yang tinggal di Jepang, tata cara pemakaman memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan tradisi Buddha.

Biasanya tidak ada ritual pembakaran dupa.

Acara lebih berpusat pada doa, ibadah, dan misa arwah.

Pelayat tetap dapat memberikan uang belasungkawa, namun sering disebut ohanaryō (御花料) atau “uang bunga”.

Dalam pemakaman Katolik, tanda salib, doa bersama, lagu rohani, dan pembacaan Kitab Suci menjadi bagian penting dari upacara.

Datang Tepat Waktu

Ketepatan waktu juga sangat dihargai di Jepang.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas