Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
Live
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Pokémon Go Bikin Geger! Data Pemain Diduga Dipakai Militer AS Petakan Dunia

Pokémon Go bikin geger! Data pemain diduga dipakai latih AI drone militer AS. Publik kini khawatir privasi digital disalahgunakan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Memuat video…

Namun, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran publik. 

Sejumlah pengamat teknologi menilai kasus ini menunjukkan bagaimana data pengguna aplikasi digital dapat berkembang jauh melampaui tujuan awal penggunaannya.

Kepala kebijakan Digital Rights Watch, Tom Sulston, mengatakan penggunaan data warga sipil untuk kepentingan militer merupakan hal yang patut dikhawatirkan.

Menurutnya, sebagian besar pengguna biasanya tidak membaca secara rinci syarat dan ketentuan aplikasi saat memainkan game, sehingga banyak yang tidak menyadari bagaimana data mereka dapat dimanfaatkan di kemudian hari.

Sulston juga mendesak regulator teknologi untuk memperketat perlindungan terhadap pengguna agar perusahaan digital tidak mengeksploitasi data pribadi secara berlebihan.

Sementara itu, peneliti Universitas Sydney, Dr. Rob Nicholls, menilai kasus ini kemungkinan hanya sebagian kecil dari praktik pemanfaatan data aplikasi untuk kepentingan lain di luar tujuan awalnya.

Ia mencontohkan bagaimana data olahraga dari aplikasi Strava sebelumnya pernah digunakan untuk mengidentifikasi lokasi fasilitas militer di sejumlah negara.

Rekomendasi Untuk Anda

Kekhawatiran publik semakin meningkat setelah Vantor pada Februari lalu mengumumkan kerja sama dengan Angkatan Darat Amerika Serikat senilai hingga 217 juta dolar AS untuk pengembangan perangkat lunak pelatihan militer.

Di sisi lain, Niantic juga diketahui telah menjual divisi game-nya kepada Scopely pada 2025 dengan nilai transaksi mencapai 3,5 miliar dolar AS.

Kasus ini kini memicu perdebatan global mengenai batas penggunaan data digital, perlindungan privasi pengguna, serta potensi pemanfaatan teknologi hiburan untuk kepentingan militer dan keamanan modern.

(Tribunnews.com / Namira)

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas