Iran Jadi Negara Pertama di Dunia yang Bertanding Piala Dunia di Negara yang Sedang Diperanginya
Iran akan menjadi negara pertama dalam sejarah Piala Dunia yang bertanding di negara tuan rumah yang sedang berperang dengannya, yakni Amerika Serikat
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Ayu Miftakhul Husna
Pola tersebut akan diulangi pada pertandingan berikutnya, yakni melawan Belgia di Los Angeles pada 21 Juni dan menghadapi Mesir di Seattle lima hari kemudian.
Ketidakpastian juga masih menyelimuti para pendukung yang berharap dapat mengikuti tim mereka.
Alokasi tiket Piala Dunia untuk suporter Iran sempat ditangguhkan akibat komplikasi yang berkaitan dengan sanksi AS.
FIFA menyatakan sedang berupaya membantu para penggemar Iran agar dapat menghadiri pertandingan, tetapi banyak pendukung masih menunggu kejelasan mengenai perjalanan dan akses tiket.
Dalam beberapa waktu terakhir, muncul tanda-tanda bahwa upaya diplomatik masih terus berlangsung. Presiden AS Donald Trump mengatakan kemajuan tengah dicapai menuju kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan.
Namun, hingga kini kesepakatan formal masih belum terwujud.
Pendukung Timnas Iran Terbagi Antara Pemerintah Iran vs Penentangnya
Masih mengutip Guardian, situasi semakin rumit karena adanya tarik-menarik ideologis antara rezim Iran dan para penentangnya mengenai siapa yang sebenarnya diwakili tim nasional Iran serta kepada siapa loyalitas mereka diberikan.
Dalam kondisi normal, para pemain dapat mengharapkan dukungan besar di Los Angeles, yang menjadi rumah bagi komunitas diaspora Iran yang besar hingga dijuluki "Tehrangeles".
Namun, kuatnya penolakan terhadap pemerintahan Iran di kalangan banyak warga keturunan Iran di luar negeri dapat mengurangi dukungan tersebut.
Perdebatan mengenai identitas tim semakin memanas setelah beredarnya video resmi Piala Dunia yang diunggah di media sosial.
Video tersebut menggambarkan para pemain sebagai representasi ideologi Islam Syiah yang dianut rezim Iran.
Video itu menampilkan cuplikan para pemain dengan iringan musik eulogi keagamaan yang menghormati Imam Ali dan Imam Hussein, dua tokoh yang sangat dihormati dalam Islam Syiah setelah Nabi Muhammad, serta merujuk pada Pertempuran Karbala pada abad ketujuh.
Alex Vatanka, Kepala Program Iran di Middle East Institute, Washington, mengkritik video tersebut.
"Piala Dunia adalah kesempatan bagi Teheran untuk berbicara kepada rakyat Iran sebagai sebuah bangsa. Sebaliknya, mereka memilih berbicara kepada mereka sebagai sebuah ideologi Islamis," tulisnya.
Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran yang digulingkan, Mohammad Reza Pahlavi, juga mengkritik upaya menggambarkan tim nasional Iran sebagai utusan ideologi rezim.