Pejabat Keamanan Tertinggi Haiti Diculik, Geng Bersenjata Diduga Terlibat
Pejabat keamanan tertinggi Haiti diculik kelompok bersenjata di Port-au-Prince, memperlihatkan krisis keamanan yang makin parah.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
- James Boyard, pejabat senior Kementerian Pertahanan sekaligus Inspektur Jenderal Kepolisian Haiti, diculik kelompok bersenjata di ibu kota Port-au-Prince.
- Penculikan ini menjadi kasus tingkat tinggi paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir di tengah dominasi geng bersenjata yang menguasai sebagian besar wilayah kota.
- Analis menilai operasi tersebut kemungkinan direncanakan secara matang dan menjadi sinyal semakin beraninya kelompok kriminal menargetkan pejabat negara.
TRIBUNNEWS.COM - Direktur Kabinet Kementerian Pertahanan Haiti sekaligus Inspektur Jenderal Kepolisian Nasional Haiti, James Boyard dilaporkan diculik oleh kelompok pria bersenjata di Port-au-Prince.
Port-au-Prince adalah ibu kota sekaligus kota terbesar dari negara Haiti, sebuah negara yang terletak di kawasan Kepulauan Karibia, Amerika Utara.
Dilansir CNN, Boyard menjadi salah satu pejabat berpangkat tertinggi yang menjadi korban penculikan di Haiti dalam beberapa tahun terakhir.
Seorang sumber yang mengetahui kasus tersebut membenarkan penculikan itu kepada Associated Press (AP) pada Sabtu (14/6/2026), meski identitas pelaku dan motif penculikan masih belum diketahui.
Media lokal Haiti melaporkan Boyard diculik pada Kamis (12/6/2026) di kawasan Bourdon, salah satu wilayah di ibu kota yang selama ini dianggap relatif aman.
Kawasan Bourdon ini dikenal sebagai salah satu area penting di Port-au-Prince yang menampung beberapa kantor kedutaan besar, lembaga internasional, dan kawasan pemukiman.
Baca juga: Trump Klaim Pemimpin Geng Tren de Aragua Tewas dalam Serangan AS di Venezuela
Insiden itu terjadi ketika sekitar 70 persen wilayah Port-au-Prince disebut berada di bawah kendali koalisi geng bersenjata Viv Ansanm.
Viv Ansanm merupakan kelompok yang telah ditetapkan Amerika Serikat sebagai organisasi teroris asing sejak Mei 2025.
Boyard dikenal sebagai pakar keamanan dan ilmuwan politik yang selama beberapa tahun terakhir terlibat dalam upaya membangun kembali angkatan bersenjata Haiti serta mendorong reformasi di tubuh Kepolisian Nasional Haiti.
Hingga kini belum ada informasi mengenai tuntutan tebusan maupun kelompok yang bertanggung jawab atas penculikan tersebut.
Analis International Crisis Group, Diego Da Rin, menilai operasi penculikan terhadap pejabat setingkat Boyard kemungkinan dilakukan secara terencana.
"Seseorang dengan pangkat seperti ini jelas memiliki pengamanan yang sangat ketat," kata Da Rin, dikutip dari AP.
Menurutnya, penculikan tersebut kemungkinan melibatkan perencanaan rinci dan tidak menutup kemungkinan adanya bantuan dari pihak yang mengetahui pola pengamanan korban.
Baca juga: AS Umumkan Kematian Bos Tren de Aragua El Niño Guerrero, Gembong Narkoba Venezuela
Da Rin juga mengingatkan bahwa penculikan kini semakin sering terjadi di wilayah-wilayah yang sebelumnya dianggap aman.
"Kelompok geng terkadang menggunakan seragam polisi dan menghentikan kendaraan dalam operasi palsu," ujarnya.