Iran Ultimatum Netanyahu, Ancam Gempur Israel jika Lebanon Terus Dibombardir
Iran ultimatum Netanyahu usai Israel terus bombardir Lebanon. Trump ikut kritik operasi IDF, Timur Tengah kini di ambang perang regional besar.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Iran ancam gempur Israel jika pasukan Netanyahu terus bombardir Lebanon selatan hingga menyebabkan lonjakan korban jiwa.
- Netanyahu menolak menarik pasukan Israel dari Lebanon dan menegaskan operasi militer tetap dilakukan untuk menghancurkan ancaman Hizbullah meski di kritik Iran dan Pemimpin AS Donald Trump.
- Situasi ini memicu kekhawatiran dunia internasional akan pecahnya perang regional yang melibatkan Israel, Hizbullah, dan Iran.
TRIBUNNEWS.COM - Komando darurat angkatan bersenjata Iran, Khatam al-Anbiya, menegaskan Teheran siap memberikan “tanggapan keras” apabila Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu nekat melanjutkan operasi militernya.
Ultimatum itu disampaikan pimpinan Khatam al-Anbiya, menyusul serangkaian serangan Israel di wilayah Lebanon selatan yang telah menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai beberapa lainnya.
Dalam pernyataan resminya, Iran menyebut sedikitnya terdapat 84 pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel, termasuk serangan udara dan serangan drone di beberapa wilayah Lebanon selatan yang memicu lonjakan korban jiwa.
“Tentara Israel terus melakukan kejahatan dan membunuh rakyat Lebanon yang tertindas,” demikian pernyataan resmi Iran, mengutip dari Ynetnews.
Teheran kemudian memperingatkan apabila Israel tetap melanjutkan bombardir di Lebanon, maka pasukan Iran siap memberikan “tanggapan keras” terhadap Israel.
Ancaman tersebut memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel, terutama karena Iran selama ini menjadi pendukung utama Hizbullah di Lebanon.
Bagi Teheran, setiap serangan besar Israel terhadap Hizbullah dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan strategis Iran di kawasan Timur Tengah.
Israel Tetap Lanjutkan Operasi Militer di Lebanon Selatan
Selain menuding Israel melanggar gencatan senjata, Iran juga kecewa terhadap sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menolak menarik pasukan dari Lebanon selatan.
Netanyahu sebelumnya menegaskan Israel akan tetap melanjutkan operasi militer demi menghancurkan ancaman Hizbullah di wilayah perbatasan.
Baca juga: Iran akan Diizinkan Jual Minyak Sesuai Kesepakatan dengan AS, Sanksi Dicabut setelah Ada Perjanjian
Sikap Israel itu dianggap Iran bertentangan dengan nota kesepahaman yang sebelumnya dibangun bersama Amerika Serikat terkait penghentian konflik di Lebanon.
Di sisi lain, militer Israel membela tindakannya dengan menyatakan operasi dilakukan untuk menghilangkan ancaman dari Hizbullah setelah kelompok tersebut meluncurkan roket ke arah pasukan Israel yang beroperasi di Lebanon selatan.
Militer Israel atau IDF mengklaim Angkatan Udara Israel telah menghancurkan peluncur roket Hizbullah dan menyerang sejumlah titik yang dianggap membahayakan pasukan mereka.
Namun, media Lebanon melaporkan serangan drone Israel di beberapa desa menyebabkan empat orang tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.
Situasi ini membuat kekhawatiran dunia internasional meningkat karena konflik antara Israel dan Hizbullah kini mulai menyeret Iran secara lebih terbuka.
Jika serangan Israel terus berlangsung dan Iran benar-benar melakukan aksi balasan langsung, maka konflik Timur Tengah berpotensi berkembang menjadi perang regional berskala besar.