Menghadapi Toddler Tantrum Tanpa Bentakan, Orang Tua Wajib Tahu
Menghadapi anak yang memasuki usia toddler sering menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang tua.
Penulis:
Bayu Indra Permana
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Perawat Tika Nurjanah ingatkan orang tua untuk lebih memahami fase tumbuh kembang anak toddler ketimbang memarahi.
- Tantrum dinilai wajar karena balita belum mampu mengomunikasikan emosi dan keinginannya dengan kalimat yang baik.
- Dibanding membentak, komunikasi tenang dan waktu berkualitas efektif bantu balita pahami perilaku positif harian.
TRIBUNNEWS.COM - Menghadapi anak yang memasuki usia toddler sering menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang tua.
Di fase ini, anak mulai aktif mengeksplorasi lingkungan, menunjukkan keinginan sendiri, hingga kerap mengalami tantrum yang membuat orang tua kewalahan.
Perawat sekaligus konten kreator parenting Tika Nurjanah menilai, menghadapi anak toddler tidak bisa hanya mengandalkan aturan atau hukuman.
Menurutnya, orang tua perlu lebih banyak memahami proses perkembangan yang sedang dialami anak.
“Usia toddler adalah masa ketika anak sedang belajar memahami dunia di sekelilingnya," ujar Tika Nurjanah kepada awak media, Rabu (17/6/2026).
"Karena itu, orang tua perlu lebih banyak memahami daripada sekadar memarahi,” ujar Tika.
Pengalaman Tika sebagai tenaga kesehatan sekaligus ibu membuatnya sering berbagi edukasi mengenai pengasuhan anak.
Salah satu hal yang paling sering ia soroti adalah cara menyikapi perilaku anak usia toddler dengan pendekatan yang lebih positif.
Menurut Tika, tantrum merupakan bagian yang wajar dalam proses tumbuh kembang anak. '
Baca juga: Tasya Kamila Ungkap Rahasia Hadapi Anak Tantrum Saat Belanja
Kondisi itu sering terjadi karena anak belum mampu mengungkapkan perasaan atau keinginannya dengan baik.
Karena itu, ia mengingatkan orang tua untuk tidak langsung bereaksi dengan kemarahan ketika anak mulai rewel atau meledak-ledak.
Menurutnya, anak tetap membutuhkan ruang untuk menyampaikan apa yang dirasakan dan dipikirkan.
Dalam menghadapi kesalahan anak, Tika menyarankan orang tua menghindari bentakan.
Komunikasi yang tenang dinilai lebih efektif untuk membantu anak memahami perilaku yang diharapkan.