Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Generasi Platinum

Kondisi Udara Yang Buruk Tingkatkan Risiko Alergi Anak?

Tentunya kondisi ini memberikan dampak negatif terhadap kesehatan anak, seperti infeksi saluran pernafasan, pneumonia, dan reaksi alergi anak.

Kondisi Udara Yang Buruk Tingkatkan Risiko Alergi Anak?
Shutterstock
Kondisi yang membuat Si Kecil sangat hipersensitif terhadap udara luar sering dikaitkan dengan perkembangan suatu reaksi alergi anak. 

TRIBUNNEWS.COM - Kualitas udara yang buruk di Indonesia, khususnya daerah Jakarta sekitarnya telah menjadi bahan perdebatan hebat, karena disebutkan menjadi kota dengan polusi udara tercemar nomor 3 di dunia.

Tentunya kondisi ini memberikan dampak negatif terhadap kesehatan anak, seperti infeksi saluran pernafasan, pneumonia, kekambuhan asma dan dermatitis atopik pada anak.

Penyakit asma yang ditandai mengi, batuk, dada terasa berat, ekspirasi memanjang, dan sesak napas, dikategorikan sebagai atopik.

Kondisi ini membuat Si Kecil sangat hipersensitif terhadap udara luar, termasuk udara yang jelek. Atopik sendiri sering dikaitkan dengan perkembangan suatu reaksi alergi anak.

Jenis atopik lain yang sering dikaitkan dengan kondisi udara yang jelek adalah Dermatitis Atopik-alergi atau sering disebut eksim kulit, yang merupakan penyakit radang kulit yang tidak menular dan bisa kambuh secara berkala.

Baca: Hari Anak Nasional: Sayonara Milenial, Selamat Datang Generasi Platinum!

Disebutkan 50% dari Dermatitis Atopik ini berhubungan dengan dengan alergi lain, serta 85% anak pernah mengalami dermatitis atopik pada usia 5 tahun pertama dengan derajat berbeda. 

Umumnya, episode pertama terjadi sebelum Si Kecil berusia 1 tahun, yang selanjutnya bisa hilang dan timbul kembali. Prevalensi jenis kulit Dermatitis Atopik pada anak diperkirakan mencapai 10%-20%, sementara pada orang dewasa sekitar 1%-3%.

Penyebab Dermatitis Atopik masih belum dikenali dengan pasti namun 50% penyebabnya berasal dari faktor eksternal seperti kondisi lingkungan sekitar seperti kondisi udara terlalu kering, udara berasap dan berdebu serta bahan pencetus iritasi kulit seperti jenis sabun atau deterjen tertentu, debu, rumput serta serbuk dari tumbuhan berbunga (pollen).

World Allergy Organization (WAO) sendiri menyebutkan bahwa alergi anak bisa dicegah dengan cara menghindari allergen yang menyebabkan alergi.  Ada 3 organ yang sering menjadi organ target allergen yaitu saluran nafas, saluran cerna dan kulit. Beberapa contoh gejala yang sering muncul adalah saluran nafas (batuk, sesak nafas dan kambuhnya gejala asma). 

Kondisi Udara Yang Buruk dan Susu Alergi Tingkatkan Risiko Alergi Anak?

Gejala saluran cerna (muntah, diare, konstipasi, sampai BAB yang berdarah) dan tentu saja gejala yang sering muncul dan diamati orangtua adalah reaksi pada kulit seperti bengkak pada mata, bibir, kulit merah dan bentol-bentol di kulit serta gatal atau Dermatitis Alergi/Atopic-Eksim.

Untuk alergi seperti asma dan Dermatitis Atopik dapat dicegah-dihindari-kurangi keluhan yan muncul seperti mengindentifikasi orangtua yang punya riwayat Atopic, menghindari allergen, kalau itu polusi udara (anak jangan terlalu lama main di luar udara berpolusi, asap debu, pakai masker, kaca mobil ditutup dan lain-lain).

Sedangkan untuk pencegahan alergi terhadap makanan bisa dilakukan dengan memperkenalkan berbagai jenis makanan sedini mungkin, memberikan ASI secara eksklusif, atau jika bunda tidak dapat memberikan ASI, anak dapat diberikan susu yang telah diformulasikan secara khusus seperti susu dengan protein terhidrolisat parsial yaitu membuat molekul protein susu sapi menjadi lebih mudah dicerna dan diserap sehingga alergi terhadap susu sapi bisa dikurangi.

Untuk menentukan apakah Si Kecil menderita alergi anak harus berdasarkan konsultasi dan hasil pemeriksaan dokter anak (subspesialis alergi immunologi) dan dengan pemeriksaan laboratorium.

Seiring dengan banyaknya permintaan informasi mengenai pencegahan pada anak, maka Kalbe Morinaga menghadirkan situs www.cekalergi.com, melalui konsultasi dengan dokter.

Di luar itu, Anda bisa mengetahui risiko alergi anak serta informasi yang tepat mengenai fakta-fakta alergi. Disamping itu  Morinaga memiliki program tetap yaitu Morinaga Allergy Solution yang merupakan solusi alergi untuk Si Kecil melalui sinergi nutrisi yang tepat, hasil pengembangan PT Kalbe Nutritionals bersama Morinaga Research Centre Jepang.

Susu Soya Bisa Sembuhkan Alergi Anak?

Morinaga Allergy Solution terdiri dari tiga keunggulan, yang pertama adalah solusi nutrisi untuk mencegah alergi dan mengatasi alergi susu sapi. Yang kedua adalah tersedianya produk nutrisi untuk anak dari lahir sampai usia 12 tahun.

Baca: 5 Gangguan Pencernaan Anak Yang Sering Terjadi dan Pencegahannya

Yang ketiga adalah sinergi nutrisi yang tepat dan mencakup Brain Care, Body Defense dan Body Growth yaitu Formula Hidrolisat Protein Morinaga PHP dan Morinaga Soya, penambahan asam amino kedalam susu isolate protein dalam Morinaga Soya, penambahan nutrisi penting seperti asam lemak esensial seperti AA&DHA, Prebiotik dan Probiotik Bifidobakterium sehingga nutrisinya lebih mudah dicerna dan diserap.

Menurut hasil survei Home Tester, terhadap ibu-ibu di Indonesia dengan anak usia antara 1-5 tahun yang alergi susu sapi dan mengkonsumsi Morinaga Soya, 100% atau semua ibu setuju Morinaga Soya mengurangi gejala alergi dan alergi tidak muncul.  Tentunya dengan penyedian nutrisi terbaik ini menjadikan anak dengan masalah alergi akan tumbuh dan berkembang setara dengan anak anak lain.

Ikuti kami di
Add Friend
  Loading comments...

Berita Terkait :#Generasi Platinum

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas