Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Penting! Warita Gay dan 'Straight' Mendapatkan 'Lotre' HIV

Apapun gender dan orientasi seksual Anda, Anda berisiko terinfeksi HIV. Jangan lagi pernah berpikir bahwa HIV/AIDS merupakan penyakit homoseksual.

Tribun X Baca tanpa iklan

"Dulu terbit buku Jakarta Undercover dari Moammar Emka. Dari sana, saya tahu beberapa tempat kumpul untuk gay. Saya jadi ingin tahu, seperti apa sih Sarinah, seperti apa Senen," kata Antonio.

Kumpul-kumpul dengan sesama LGBT membuka peluang Antonio mengakses seks. Ia mengaku aktif secara seksual begitu lulus kuliah dan tinggal sendiri.

Kurangnya informasi membuatnya melakukan hubungan seksual yang tidak aman. "Saya tahu HIV bisa menular lewat seks tapi saat itu lebih banyak isunya kan soal narkoba," katanya.

Akhir 2012, saat wisata ke Bali, Antonio memeriksakan diri. Hasil tesnya positif namun ia sempat menunda minum ARV karena CD4-nya masih tinggi.

Pada rekan sesama gay, Antonio menyampaikan pesan yang mungkin terdengar klise tetapi tetap penting: "Lakukan seks yang aman, dengan kondom."

Selain itu, Antonio mengajak semua LGBT untuk tak cuma mengekspresikan dirijati diri, tetapi juga mewaspadai risiko terinfeksi HIV.

Dia menulis pengalamannya kehidupan sebagai gay dan HIV positif dalam buku "My Life My Story". Dia juga menjadi relawan di Ruang Carlo, klinik HIV di Rumah Sakit Carolus.

Rekomendasi Untuk Anda

Siapa Pun Bisa Kena

Pakar HIV/AIDS dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Sjamsuridjal Djauzi, mengungkapkan bahwa HIV bisa menjangkiti siapa pun.

Asumsi-asumsi tentang siapa saja yang paling berpeluang terinfeksi HIV tak sepenuhnya benar.

Dikatakan, menjadi istri setia tak akan terinfeksi HIV. Tapi, kenyataan mengungkap, tanpa kewaspadaan, HIV tetap bisa menginfeksi.

Ibu rumah tangga kini bahkan lebih berisiko terinfeksi HIV dibandingkan pekerja seks komersial.

Asumsinya, pekerja seks dan sopit truk berpeluang lebih tinggi terinfeksi HIV. Ternyata, menurut Laporan HIV Kementerian Kesehatan pada Agustus 2015, ibu rumah tangga, wiraswastawan, dan karyawan, adalah kalangan yang menurut profesinya paling banyak menderita HIV.

"Siapa pun sebisa mungkin melakukan tes HIV," kata Sjamsuridjal.

Sjamsuridjal mengajak siapa pun memerangi HIV, termasuk perusahaan yang mempekerjakan karyawan. Biaya HIV yang ditanggung pemerintah cukup tinggi. Tahun 2014, pemerintah menghabiskan Rp 200 miliar hanya untuk obat ARV.

"Kalau swasta keuntungan bertriliun-triliun, mereka harusnya bisa berperan serta.

Kepada media, Sjamsuridjal menekankan pentingnya peran memberi informasi, bukan hanya menyuguhkan perdebatan dan isu soal kebijakan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas