Tribun Kesehatan
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kesehatan

Kotoran Hewan Bisa Bantu Obati Depresi pada Manusia, Benarkah? Berikut Penjelasannya

Simak penjelasan dari studi baru tentang kemungkinan kotoran hewan/ tinja yang bisa membantu mengobati depresi pada manusia.

Kotoran Hewan Bisa Bantu Obati Depresi pada Manusia, Benarkah? Berikut Penjelasannya
spectator.co.uk
ILUSTRASI - Simak penjelasan dari studi baru tentang kemungkinan kotoran hewan/ tinja yang bisa membantu mengobati depresi pada manusia. 

Simak penjelasan dari studi baru tentang kemungkinan tinja yang bisa membantu mengobati depresi pada manusia.

TRIBUNNEWS.COM - Para ilmuwan telah menemukan bahwa memindahkan kotoran hewan/ tinja dari satu sumber ke pasien lain berpotensi dapat membantu mengobati gangguan kejiwaan seperti depresi.

Namun, jangan khawatir, itu tidak seperti yang kamu pikirkan.

Ada cara “bersih” dan aman untuk mendapatkan transplantasi tinja.

Sebuah studi baru memiliki penemuan baru tentang ini.

Baca: Turunkan Berat Badan hingga Jaga Gula Darah, Ini 7 Manfaat Luar Biasa Belimbing bagi Kesehatan

Baca: Mandi Air Dingin Membantu Anda Melawan Depresi, Simak Beberapa Manfaat Lainnya

Baca: Depresi Bisa Tumbuh Ketika Anda Kesepian, Bagaimanakah Mengatasinya?

Sutdi yang diterbitkan dalam jurnal Molecular Psychiatry menunjukkan bahwa pada hewan, transplantasi bakteri usus dari subjek yang tidak stres dengan mereka yang terpapar stres dapat meningkatkan kondisi mental yang terkena stres.

Para peneliti mengatakan temuan mereka dapat membantu menciptakan perawatan probiotik untuk gangguan kejiwaan manusia.

"Kami menemukan bahwa stres mengubah mikrobioma usus tikus yang menunjukkan gejala depresi dalam uji laboratorium" Seema Bhatnagar, ketua peneliti dan ahli saraf di Departemen Anestesiologi dan Perawatan Kritis di Children's Hospital Philadelphia (CHOP), mengatakan dalam sebuah pernyataan

Sebelum penelitian, telah diketahui bahwa otak dan usus saling mempengaruhi.

Pada manusia, pasien dengan gangguan kejiwaan memiliki mikroba usus yang unik dalam tubuh mereka dibandingkan dengan mikroba pada individu yang sehat.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Citra Agusta Putri Anastasia
Editor: Siti Nurjannah Wulandari
Sumber: TribunSolo.com
  Loading comments...

Berita Terkait :#Kesehatan

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas