Tribun Kesehatan

Obat Herbal dari Jahe Merah dan Jamur Cordyceps Militaris untuk Pasien Covid-19 Gejala Ringan

Inggrid mengatakan uji klinik ini merupakan uji klinik pertama herbal imuno modulator Indonesia untuk Covid-19

Penulis: Larasati Dyah Utami
Editor: Eko Sutriyanto
Obat Herbal dari Jahe Merah dan Jamur Cordyceps Militaris untuk Pasien Covid-19 Gejala Ringan
Shutterstock
Jahe merah 

Laporan Wartawan Tribunnews, Larasati Dyah Utami

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia saat ini sedang mengembangkan obat herbal untuk pasien Covid-19 dengan gejala ringan.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Inggrid Tania para peneliti saat ini telah melakukan uji klinik herbal imuno modulator.

Salah satu yang utama dari penelitian imuno modulator ini merupakan herbal asli Indonesia.

"Kami secara bersama dengan LIPI, PDPOTJI, UGM, Kalbe Farma melakukan uji klinik herbal imuno modulator yang utamanya, salah satunya memang asli Indonesia. Untuk pasien Covid-19 dengan gejala ringan yang dirawat di wisma atlet," kata Inggrid dalam wawancara radio Trijaya FM, Sabtu (3/10/2020).

Inggrid menjelaskan bentuk obat herbal Indonesia tersebut berupa ekstrak dari beberapa herbal, seperti jahe merah, sambiloto, meniran, dan daun sembung yang dimasukan dalam satu sediaan kapsul.

Baca: Fadli Zon Tanggapi Pernyataan Mahfud MD Soal DKI Juara 1 Covid-19, Sebut Kasihan dengan Gelarnya

Sedangkan imuno modulator lain yang sedang diteliti adalah jamur obat cordyceps militaris yang aslinya berasal dari Tibet, namun diproduksi sendiri dengan kultur jaringan.

Kedua itu ditegaskannya masih dalam tahap uji klinik.

"Jangan sampai kita mengeluarkan statement yang over claim, kita mencoba cegah itu," katanya

Inggrid mengatakan uji klinik ini merupakan uji klinik pertama herbal imuno modulator Indonesia untuk Covid-19.

Uji klinik dikatakannya saat ini masih berjalan dan dilakukan bekerjasama dengan Badan POM (BPOM).

"Masa intervensi pada pasien Covid-19 yang ada di wisma atlet telah selesai, sekarang kami sedang tahap verifikasi data dan kemudian akan dianalisis statistik untuk membuka blinding dengan metode double blinding," katanya.

Baca: Kepala Juru Kampanye Donald Trump Positif Covid-19

Untuk menghindari bias dan rekayasa uji klinik yang mungkin saja terjadi, Inggeid berujar sementara hasil penelitian masih dikembangkan.

Setelah di lock dan analisis statistik, hasil penelitian baru bisa dibuka dan dilaporkan di BPOM.

"Kita berharap hasilnya nanti akan baik dan semoga manfaat, khasiat maupun keamanannya bisa terbukti secara ilmiah," katanya.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas